Blackpink dan Persoalan Tubuh Perempuan

Tubuh perempuan adalah sebuah kesalahan!

Itu sebabnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengategorikan iklan Shopee Blackpink sebagai kategori iklan yang tidak memperhatikan ketentuan tentang penghormatan terhadap norma kesopanan yang diatur dalam PedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI, karena memakai rok mini mampu merusak jiwa-jiwa putih para penerus bangsa.


Pelarangan iklan Shopee Blackpink ini adalah bukti tentang masih kuatnya tradisi patriarki berakar dalam strukturmasyarakat dan ekosistem media mainstream Indonesia. Tradisi ini selalu mendefinisikan standar mengenai tubuh perempuan agar mengikuti pola dan kehendak masyarakat yang maskulin. 
Sayang sekali bahwa paham maskulinisme ini juga turut disepakati oleh beberapa kalangan kaum hawa.

Tubuh Perempuan Dalam Dunia Patriarki

Dalam karya Politics yang ditulis oleh Aristoteles menyebutkan kedudukan perempuan dalam struktur sosial politik adalah sebagai subjek (yang diperintah) oleh pria. Filsuf Yunani ini bahkan mengatakan jika sifat perempuan tidak memiliki kualitas yang layak sehingga dianggap sebagai sebuah kecacatan.

‘Ketidakberdayaan’ perempuan menyebabkan eksistensinya dibentuk berdasarkan kehendak laki-laki yang secara fisik memiliki kemampuan yang lebih superior. Perempuan akan selalu menjadi atribut yang didasarkan pada kehendak pria, sehingga mereka tidak bisa memiliki kebebasan untuk berekspresi dengan tubuhnya sendiri.

Sebagai subjek yang harus puas didefinisikan oleh maskulinisme, perempuan hanyalah gender kedua yang dianggap sebagai objek seksual. Oleh karenanya, segala penyimpangan moral yang terkait dengan seksualitas disebabkan karena tubuh perempuan ‘mengundang’ laki-laki untuk birahi.

Sedangkan ketika birahi para perempuan muda terpancing saat atlet bulutangkis Jojo membuka bajunya tidak akan dipandang sebagai suatu kesalahan. Sebab Jojo adalah seorang pria, dan dalam dunia patriarki tubuh pria adalah simbol keperkasaan yang pantas meningkatkan birahi perempuan.

Tubuh Perempuan dan Moralitas Anak

Pada tahap-tahap awal kehidupan manusia, tubuh perempuan (ibu) adalah dunia pertama yang dikenal oleh seorang anak. Bayi memiliki insting untuk mencari puting payudara agar bisa menyusui; bau tubuh ibu dapat memberikan ketenangan ketika anak menangis; dan semua anggota tubuh ibu adalah laboraturium pertama anak untuk merefleksikan dan mengidentifikasi dirinya sebagai manusia.

Tubuh ibu bahkan merupakan tempat permainan anak dalam mengeksplorasi dunia. Hasil penelitian telah banyak membuktikan, kedekatan anak dengan (tubuh) ibu bahkan mampu membuat anak menjadi cerdas dan genius. Jadi, bagaimana mungkin hal yang telah akrab pada diri anak sejak dia lahir pada akhirnya mampu membuat anak mengalami degradasi moral?

Seiring perkembangan anak menjadi dewasa, lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh sangat besar untuk membentuk kepribadian dan mengonstruksi pemikiran manusia. Jika sejak kecil ….anak ditanamkan pemahaman bahwa tubuh perempuan itu berbahaya karena mampu menciptakan kerusakan moral, maka anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa tubuh perempuan harus selalu dikekang demi terciptanya kestabilan sosial.

Dalam masyarakat yang terbuka dengan perubahan, tubuh perempuan tidak dianggap sebagai ancaman. Seorang teman Muslimah tinggal di Bali yang penuh dengan turis asing berbikini setiap hari, namun jilbab tak pernah lepas dipakainya setiap saat. Teman-teman pria di Manado tidak pernah mempersoalkan ketika tante dan nenek mereka masih memakai rok di atas lutut dan berpenampilan modis.

Tubuh Perempuan Mencari Kebebasan

Pemikiran tentang tubuh perempuan yang mampu membahayakan moral anak-anak adalah bentuk keterbelakangan pikiran para penganut paham patriarki yang masih berupaya untuk mengekang eksistensi perempuan.

sumber: Hollywood Reporter

Bukan hanya Blackpink yang memakai rok mini yang dikecam, perempuan berhijab pun kerap diberi stigma. Jilbab yang panjang dianggap kuno, memakai celana jeans dianggap tak syar’i, memakai cadar dianggap merupakan pengikut aliran Islam konservatif, dan masih banyak lagi label negatif yang terus disematkan kepada perempuan dan pilihan berpakaiannya.

Pola pendidikan orang tua di Indonesia jarang mengajarkan tentang kebebasan memilih. Kebanyakan orang tua hanya mengajarkan anak untuk membuka/menutup satu pintu. Pilihannya hanya boleh, atau dilarang sama sekali. Padahal generasi saat ini berada di tengah ekosistem terbuka yang semakin dinamis berkat laju pertumbuhan teknologi informasi.

Anak membutuhkan penjelasan tentang dunia yang semakin kompleks ini agar mereka mampu mengerti tentang keruwetan sifat manusia, dan menghargai pilihan orang lain. Pelarangan sama sekali bukan solusi untuk melindungi anak, apalagi bila sampai menyalahkan tubuh perempuan.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: