Rok Mini Blackpink dan ‘Penghancuran’ Mental Anak


Rok mini adalah stigma yang diberikan oleh masyarakat patriarkis kolot yang berupaya untuk mengekang kebebasan perempuan agar dapat diatur sesuai dengan keinginan masyarakat.

Shopee-x-BLACKPINK

sumber: Marketing Interactive

 

Pemboikotan iklan Shopee yang menampilkan girlband Blackpink asal Korea Selatan menghebohkan jagad maya. Sebuah petisi di Change.org yang diinisiasi oleh Maimon Herawati meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menghentikan tayangan iklan Shopee, terutama pada jam tayang anak-anak. Pasalnya, Blackpink dinilai melanggar norma kesusilaan karena tampil dengan rok mini dan ekspresi provokatif yang dapat membahayakan perkembangan anak. Hingga saat tulisan ini dibuat, petisi tersebut telah ditandatangani oleh 78.935 orang dari target 150 ribu penandatangan.

Tampilan Blackpink di layar kaca hanya merupakan bagian kecil dari realitas yang terjadi di sekitar kita. Pada kenyataannya, saat orang tua mengajak anaknya jalan-jalan ke area publik seperti pusat perbelanjaan, restoran, hingga menghadiri pesta, kita kerap menjumpai orang yang memakai dress dan rok mini. Lantas, apa kita harus menyalahkan para perempuan dengan rok mini tersebut sebagai orang yang menyebarkan konten pornografi dan merusak mental anak?

Keterlibatan Blackpink Dengan Shopee

Shopee merupakan situs belanja online yang berkantor pusat di Singapura. Sejak tahun 2015, Shopee telah melakukan ekspansi di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand, ditambah Taiwan.

Pada tahun ini, Blackpink didapuk untuk menjadi brand ambassador Shopee untuk mempromosikan dan memeriahkan ulang tahun Shopee pada 12 Desember mendatang. Dipilihnya Blackpink sebagai duta Shopee karena prestasi yang telah diraih girlband Korea ini sebagai artis pertama Korea (dan saat ini masih satu-satunya) yang masuk kategori Billboard Hot 100 lewat lagu Ddu-Du Ddu-Du selain juga kepopuleran mereka di negara-negara tempat Shopee beroperasi.

Ketika lagu Baby Shark menjadi viral di seluruh dunia, Shopee tak ketinggalan membuat parodi iklan belanja dengan menggunakan lagu ini untuk semua iklannya di negara-negara operasional. Hanya versinya berbeda dan menggunakan talent dari negara masing-masing.

Terpilihnya Blackpink sebagai duta pertama Shopee pada akhirnya membuat semua iklan Shopee di semua negara-negara operasionalnya menjadi seragam. Perbedaannya hanya pada penutup yang diucapkan Lisa Blackpink yang menggunakan bahasa tiap-tiap negara. Jadi, iklan Shopee Blackpink ini tidak hanya tayang di Indonesia, tapi juga di Vietnam, Filipina, Thailand, Singapura, Taiwan, dan Malaysia yang notabene merupakan negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Patriarki dan Rok Mini

Paham masyarakat Indonesia saat ini masih sangat didominasi oleh sistem patriarki yang mengonstruksi tubuh perempuan hanya sebagai objek seksual. Perempuan tidak diberi kebebasan untuk berekspresi dengan tubuhnya sendiri, sehingga kaum hawa akan langsung diberi label ‘genit’, ‘nakal’, dan ‘murahan’ ketika mereka berpakaian tidak sesuai dengan pandangan masyarakat kebanyakan.

Rok mini adalah stigma yang diberikan oleh masyarakat patriarkis kolot yang berupaya untuk mengekang kebebasan perempuan agar dapat diatur sesuai dengan keinginan masyarakat. Sungguh menyedihkan karena pengekangan terhadap perempuan ini justru dilakukan oleh perempuan juga.

Membatasi pilihan perempuan dalam berpakaian merupakan bentuk merendahkan perempuan yang tidak lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Gaya berbusana adalah pilihan yang merepresentasikan keunikan tiap-tiap individu, dan tidak ada selera yang seragam.

Pilihan untuk memakai rok mini atau bercadar sekalipun adalah penegasan identitas yang ingin ditunjukkan perempuan kepada dunia tentang diri mereka. Seharusnya orang tua mengajarkan pada anak untuk menghargai, alih-alih menjustifikasi orang lain malah dianggap sebagai cara yang tepat untuk menunjukkan benar dan salah.

Menabukan Informasi

Ketakutan orang tua terhadap para perempuan dengan rok mini adalah cerminan dari kurangnya wawasan terhadap kondisi sosial yang terjadi saat ini. Ini juga merupakan gambaran tentang kurangnya pengajaran orang tua kepada anak mengenai anatomi tubuh, karena topik mengenai tubuh masih dipandang sebagai topik yang tabu untuk dibicarakan dengan anak-anak.

Wacana tentang tubuh, terutama tubuh perempuan, sering dianggap sebagai objek seks yang tidak layak dibicarakan dengan anak-anak. Padahal tubuh adalah penegasan eksistensi manusia. Kurangnya pengetahuan tentang tubuh akan menjadikan anak untuk tidak menghargai keberadaan dirinya dan orang lain. Pelecehan seksual, kekerasan fisik, bullying, dan labelling adalah hasil akumulasi dari kurangnya pengetahuan mengenai makna tubuh manusia akibat tidak adanya edukasi dari orang tua.

Menjadi Google Pertama Bagi Anak

Orang tua tidak bisa lagi mendidik dengan gaya konservatif (yang sering digadang sebagai adat kebiasaan orang Timur) karena di masa saat ini generasi muda akan lebih mengandalkan pencarian informasi di dunia maya ketimbang berinteraksi dengan orang tua yang enggan untuk melihat perubahan sosial yang berlangsung.

Pemboikotan terhadap suatu iklan bukanlah merupakan bentuk perlindungan terhadap anak-anak dari bahaya konten negatif media. Apa yang muncul di media hanyalah sebagian kecil dari realitas yang terjadi di dunia nyata. Pembatasan ruang pengetahuan anak malah akan menimbulkan represi yang pada akhirnya menyebabkan anak berupaya mencari penyaluran lain tanpa sepengetahuan orang tua.

Yang perlu dilakukan orang tua untuk memproteksi anak di tengah hingar bingarnya informasi pada saat ini adalah pendampingan. Orang tua harus selalu hadir sehingga anak akan menjadikan orang tua sebagai rujukan informasi pertama. Dengan adanya pendampingan, orang tua justru bisa mengontrol dan menyaring alur informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: