Menggaungkan Gerakan Perempuan Virtual Dalam Melawan Kekerasan Seksual

Dalam sejarah pergerakan perempuan di jagat virtual, sejauh ini #MeToo masih merupakan gerakan tersukses yang mendapat perhatian secara global. Gerakan #MeToo di media sosial berhasil memberikan keberanian bagi banyak perempuan di seluruh dunia untuk berani mengungkapkan, melaporkan, serta memberi dukungan kepada mereka yang mengalami kejahatan seksual seperti pelecehan hingga pemerkosaan.

#MeToo telah mampu mengubah perspektif global tentang urgensi kejahatan seksual yang kerap tidak memihak pada kepentingan korban. Gerakan ini sekaligus menyadarkan, bahwa perempuan mana pun, tak peduli selebritas yang hidup dalam keglamoran hingga perempuan kelas pekerja, selalu berpotensi mengalami kejahatan seksual.

Pengaruh #MeToo di media sosial telah berhasil mengguncang status quo, terutama dalam industri dunia hiburan (entertainment). Figur publik yang diketahui pernah melakukan kejahatan seksual akan langsung terkena sanksi kultural di jagat virtual dalam bentuk cancel culture, di mana netizen memberikan tekanan sosial kepada si penjahat seksual dengan cara memboikot karya mereka hingga melarang untuk tampil di depan publik.

Teknologi digital memudahkan penggunanya untuk menelusuri track record perilaku si pelaku, hingga menggalang dukungan online lewat petisi daring untuk ‘menghukum’ si pelaku. Korea Selatan termasuk salah satu negara yang paling banyak menerapkan cancel culture pada idol yang terbukti melakukan kejahatan seksual.

Di Indonesia, cancel culture pernah diberikan pada pelaku pedofilia Saiful Jamil dengan melarang si pemerkosa anak tersebut untuk tampil di program televisi manapun. Yang teranyar adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan aktor Johnny Depp dan aktris Amber Heard sehingga menyebabkan mereka kehilangan kontrak dalam franchise film yang mereka bintangi.

Terlepas dari pro-kontra cancel culture yang dianggap beracun dalam bentuk upaya mempermalukan seseorang di media sosial, mekanisme ini setidaknya bisa memberikan efek jera pada para penjahat seksual, utamanya mereka yang merupakan figur publik, untuk tidak melakukan tindak kejahatan seksual.

#MeToo dan Keberanian Perempuan Melawan Kejahatan Seksual

Keberhasilan gerakan #MeToo secara global tak lepas dari faktor populer para selebritis Hollywood yang bersuara di ruang digital dalam mengungkapkan kejahatan seksual di industri perfilman negeri Paman Sam tersebut. Sebelumnya, #MeToo telah digagas lewat situs media sosial MySpace oleh Tarana Burke di tahun 2006. Tarana adalah seorang penyintas dan aktivis perempuan dalam melawan kejahatan seksual.

Ada dua faktor yang membuat gerakan #MeToo mencuat setelah sekian lama pasca pengungkapan skandal seks Hollywood via Twitter. Pertama, gerakan ini pertama kali digagas di situs media sosial MySpace yang mulai mengalami banyak masalah teknis akibat terlalu banyaknya pengguna. Kemunculan platform media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter lambat laun semakin meredupkan kilau MySpace sehingga pengguna banyak yang beralih ke platform media sosial lain.

Kedua, faktor rasisme bisa jadi berperan pula dalam popularitas gerakan #MeToo yang digagas Tarana. Sebagai seorang perempuan keturunan Afrika-Amerika, sangat mudah untuk tidak terlalu menanggapi pernyataan dan advokasi Tarana mengenai kejahatan seksual. Meskipun perempuan kulit putih di Amerika Serikat juga tak lepas dari bahaya kejahatan seksual.

Popularitas para selebritis Hollywood yang menjadi korban kejahatan seksual mempengaruhi banyak perempuan untuk bertindak sama dalam mengungkapkan kekerasan seksual yang mereka alami. Karena itu #MeToo menjadi gerakan digital global perempuan dalam sekejap.

Frasa hashtag yang hanya menggunakan dua suku kata (yakni Me dan Too) juga sangat singkat, namun memberikan efek mendalam bagi banyak perempuan bahwa mereka tidak sendirian dalam melawan trauma yang diakibatkan oleh kejahatan seksual. Frasa ini menunjukkan perjuangan bersama, perasaan dan derita yang sama. “Aku memahamimu, karena aku juga mengalami apa yang kamu alami dan apa yang kamu rasakan.”

Gerakan Perempuan di Tanah Air

Selain gerakan global #MeToo, setiap negara juga memiliki cara dan gerakan digital yang populer di region masing-masing. Di India, kampanye virtual untuk melawan kekerasan seksual telah didengungkan sejak 2015 lewat hashtag #shareyourstory with your son. Gerakan ini mengajak obrolan lintas generasi antara ibu yang merupakan penyintas kekerasan seksual untuk menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialami kepada putranya. Dengan demikian, sang anak lelaki memahami apa yang dirasakan sang ibu dan di masa depan tidak akan menjadi laki-laki yang melakukan kejahatan seksual.

Di Indonesia, gerakan penyadaran dan melawan kejahatan seksual bersifat periodik. Artinya gerakan di media sosial baru akan muncul ketika terjadi suatu peristiwa besar yang menghebohkan ranah virtual tanah air.

Pada tahun 2016, kasus pemerkosaan massal di Bengkulu yang menewaskan seorang remaja 14 tahun bernama Yuyun memunculkan tagar #NyalaUntukYuyun. Ketidakadilan terhadap pelaporan kasus pemerkosaan anak oleh ayah kandung di Luwu Timur pada tahun 2021 pernah ikut memunculkan tagar #PercumaLaporPolisi. Namun masih ada kah yang mengingat kejadian itu setelah kasusnya tak lagi viral di media sosial?

Menggaungkan Gerakan Perempuan di Ruang Virtual

Ketiadaan satu gerakan dengan tagar yang sama dalam perbincangan di media sosial menyebabkan tidak efektifnya kampanye online melawan kejahatan seksual. Perbincangan tentang isu kejahatan seksual tidak kontinyu, tidak berasosiasi, dan menjadi tidak konsisten karena bergantung pada viralnya suatu kejadian tindakan kejahatan seksual di media sosial. Setiap satu kejadian yang viral akan memunculkan satu tagar baru. Maka dari itu perbincangan tentang isu kejahatan seksual menjadi terbatas dan spesifik hanya pada satu momen kasus yang tengah hangat dicuitkan saat itu.

Perlu ada satu tagar yang sama yang terus-menerus digunakan dalam memperbincangkan isu kekerasan seksual. Dengan demikian, tagar tersebut akan selalu diasosiasikan dengan gerakan digital perempuan Indonesia dalam melawan kejahatan seksual. Tagar tersebut juga akan selalu menjadi rujukan informasi dalam menanggapi pelaporan kejahatan seksual yang diungkapkan di ruang digital.

Selain itu, keterlibatan pengguna media sosial yang memiliki pengaruh besar di dunia maya ( seperti selebgram atau influencer) untuk berbicara tentang isu kejahatan seksual juga masih sangat sedikit. Maka dari itu cuitan mengenai isu kekerasan seksual terdengar kurang bergaung dan tidak masif. Ketika banyak sosok prominence ikut bicara tentang isu kejahatan seksual, isu ini berpotensi viral dan menjadi perhatian publik.

Perlu adanya kesadaran bagi banyak orang, apalagi mereka yang memiliki tingkat popularitas sebagai figur publik, untuk lebih banyak bersuara dan menganggap pentingnya melawan kejahatan seksual. Dengan demikian, perlawanan terhadap kejahatan seksual menjadi suatu isu yang penting, darurat, dan mendesak meski kini Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual telah disahkan.

Beragam pihak akan mendukung suatu kampanye yang sama untuk melawan kejahatan seksual. Gerakan perempuan pun akan terdengar gaungnya di ranah virtual.

Lawan kekerasan dan ketidakadilan gender di ruang virtual!

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: