Cegah KDRT Selama Pandemi Covid 19

Pada mulanya, penetapan kebijakan untuk tetap berada di rumah selama pandemi Covid-19 terlihat sebagai momen keluarga yang menyenangkan. Suami/ayah, istri/ibu, dan anak yang pada mulanya memiliki kesibukan pekerjaan di luar, kini bisa menghabiskan banyak waktu bersama di rumah.

Tak disangka, selang beberapa lama setelah kebijakan beraktivitas di rumah diterapkan, persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) malah semakin mencuat dengan perempuan dan anak sebagai korban kekerasan paling terdampak.

Menurut Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), pada periode 16 Maret – 12 April 2020 telah terjadi 75 kasus kekerasan terhadap perempuan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, pornografi daring, dan KDRT. Sejak diberlakukannya #workfromhome dari 16-30 Maret, LBH APIK mencatat setidaknya ada 17 kasus KDRT. Laporan ini merupakan yang tertinggi yang pernah mereka terima selama rentang waktu dua minggu.

Pemicu Tingginya KDRT Selama Pandemi Covid 19

Situasi darurat yang kini tengah dihadapi warga global akibat penyebaran Virus Covid 19 memunculkan banyak tekanan, bukan hanya di sektor sosial dan ekonomi melainkan juga terutama kesehatan mental. Kebijakan untuk beraktivitas di rumah malah memunculkan banyak kecemasan yang berpengaruh pada memburuknya kesehatan mental.

Awal mulanya, penetapan #workfromhome dimaksudkan untuk memutus rantai penyebaran virus agar tidak semakin menginfeksi banyak orang. Sayangnya dampak dari penerapan kebijakan ini mengguncang banyak sektor industri, terutama level menengah ke bawah.

Dengan terhambatnya aktivitas produksi dan pemasukan yang rendah, banyak dari sejumlah bisnis terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengakibatkan orang-orang kehilangan pekerjaan. Mereka yang juga biasanya mendapatkan upah harian juga kini tidak memiliki penghasilan lagi akibat tidak adanya pekerjaan yang bisa dilakukan ketika semua orang berada di rumah.

Faktor ekonomi ini menjadi penyebab depresi paling utama, terutama karena adanya perasaan gagal untuk menafkahi anggota keluarga. Stres berkepanjangan ini meningkatkan hormon adrenalin dan debaran jantung yang disalurkan lewat tindakan agresif. Bagi laki-laki yang secara fisik memang lebih kuat dibanding perempuan dan anak-anak, tindakan agresif ini kemudian disalurkan dengan melakukan tindak kekerasan kepada istri dan anaknya. Maka tidak dapat dipungkiri jika mayoritas korban KDRT berasal dari kelas menengah ke bawah.

Walau mayoritas kasus KDRT dialami oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, tidak urung KDRT juga terjadi pada kelas menengah ke atas. Penyebabnya juga dikarenakan oleh stres akibat kebosanan yang berkepanjangan.

Rutinitas yang sama setiap hari, ditambah dengan adanya perasaan terisolasi dari lingkungan, juga serta merta meningkatkan kecemasan berlebih yang mendorong untuk munculnya tindakan agresif. Mula-mula berawal dari keluhan, lama-lama cekcok dan pertengkaran tak terelakkan, pada akhirnya tindakan kekerasan tak urung dapat terjadi.

Resiko Kekerasan Terhadap Anak Selama Pandemi Covid 19

Sama halnya dengan bekerja di rumah, sejumlah kegiatan pendidikan juga dilaksanakan di rumah. Anak-anak pun harus menjalankan aktivitasnya dari dalam rumah.

Sejatinya anak-anak juga merupakan kelompok yang rentan mengalami KDRT. Pertama, anak-anak bisa mengalami kekerasan psikis akibat melihat orangtuanya ‘main tangan’. Anak tidak memiliki pelarian seperti bermain dengan teman-temannya karena semua kegiatan sekolah dan teman-temannya juga beraktivitas di dalam rumah.

Kekerasan kedua yang mungkin dialami oleh anak juga bisa menjadi kekerasan fisik ketika orangtua memukul anaknya. Dengan segala kegiatan anak berada di dalam rumah, sifat anak akan menjadi lebih demanding dalam meminta perhatian orangtuanya. Rengekan, tangisan, bahkan teriakan anak ini bisa jadi memicu kekesalan orangtuanya sehingga bisa tanpa sadar orangtua malah memukul atau mencubit si anak agar menenangkannya.

Yang paling membahayakan pada anak adalah terjadinya kasus pelecehan seksual secara daring. Selama aktivitas di rumah, hampir semua kegiatan belajar-mengajar anak dilakukan di ruang maya. Ini menyebabkan anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berada di depan layar komputer untuk mengerjakan tugas-tugas, atau mengakses informasi dan aplikasi lain yang terkadang tidak berhubungan dengan tugas belajarnya.

Tanpa adanya pendampingan dari orangtua selama mengakses media daring tersebut, anak rentan terjebak dalam kasus grooming (bujuk rayu seksual) hingga sexting (pengiriman gambar pornografi anak). Kasus ini telah terjadi pada anak-anak di Thailand dan Filipina selama pandemi Covid-19 (Thomas Reuters Foundation Report).

Komunikasi Adalah Kunci

Penanggulangan KDRT yang terjadi selama pandemi Covid 19 SEHARUSNYA menjadi salah satu fokus utama pemerintah untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat, alih-alih malah fokus pada hal yang tidak jelas seperti masih membahas RUU Omnibus Law yang tidak signifikan. Menetapkan aturan untuk menghukum pelaku KDRT adalah yang paling dibutuhkan saat ini. Selain itu, sejumlah organisasi pelaporan KDRT seperti Komnas Perempuan dan LBH APIK harus semakin meningkatkan layanan online untuk memudahkan banyak perempuan dan anak dalam melaporkan kasus KDRT yang mereka alami.

Namun pencegahan KDRT dapat dilakukan sejak awal lewat komunikasi antara pasangan. Seringkali KDRT sebenarnya terjadi karena adanya ketidakseimbangan relasi antara suami dan istri, di mana suami cenderung menganggap semua tanggung jawab ini adalah beban yang harus ditanggung sepenuhnya. Lewat komunikasi, beban keluarga dapat dibagi dan pada akhirnya solusi bisa diputuskan bersama.

Walau secara tidak langsung memberi kontribusi signifikan terhadap tindakan KDRT, tapi dengan menghentikan segala konsumsi berita negatif (terutama tentang PHK atau tindakan kriminalitas yang terjadi selama pandemi) setidaknya dapat mengurangi stres sehingga tidak memunculkan kecemasan berlebihan dan memicu tindakan agresif lainnya.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: