Ikoy-Ikoy yang Fenomenal

Minggu (1/8) lalu sejumlah akun media sosial pesohor dan selebgram tanah air banjir diserbu netizen lewat direct messenger. Warganet meminta agar sang selebriti mengadakan ikoy-ikoy. Istilah ini mengundang kebingungan sekaligus kehebohan karena banyak yang masih belum mengerti apa maksudnya.

Ikoy-ikoy ternyata istilah yang dipopulerkan oleh YouTuber Arief Muhammad ketika kerap mengadakan giveaway dadakan seperti bagi-bagi uang atau makanan. Sang asisten si YouTuber yang kerap disapa Ikoy menjadi orang yang ditugaskan untuk mengirim dan mentransfer hadiah bagi followers terpilih. Dari sanalah viralnya istilah bagi-bagi hadiah selebritis dengan sebutan ikoy-ikoy.

Sebenarnya pemberian hadiah (giveaway) lewat media sosial merupakan hal yang telah berlangsung lama. Banyak akun media sosial, terutama yang kontennya berkaitan dengan produk kecantikan dan fashion, kerap menawarkan hadiah berupa set peralatan makeup, outfit, dan hal lain kepada para pengikutnya. Namun ikoy-ikoy jadi meresahkan lantaran adanya unsur pemaksaan warganet agar sang selebriti memberikan hadiah pada mereka.

Syarat dan Ketentuan Berlaku

Giveaway atau pemberian secara cuma-cuma di media sosial sebenarnya merupakan salah satu strategi pemasaran yang kerap dilakukan untuk meningkatkan engagement dan popularitas suatu produk di kalangan pelanggan setia ataupun calon pelanggan potensial suatu brand.

Bukan hanya brand, selebgram pun kerap membagikan hadiah secara gratis kepada followers mereka sebagai bentuk apresiasi terhadap kesetiaan sang followers yang telah mengikuti aktivitas konten di akun media sosial mereka selama ini. Selain itu cara ini juga cukup efektif untuk mendongkrak penambahan jumlah pengikut di akun sang seleb.

Sebenarnya pihak provider media sosial seperti Instagram dan Facebook telah memberlakukan beberapa aturan terkait pemberian hadiah secara cuma-cuma ini. Ada pula tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh si penyelenggara dan pemberi hadiah yang tidak boleh melanggar hukum dan berujung pada aktivitas ilegal, seperti penipuan dengan mengatasnamakan suatu brand tertentu sehingga merugikan secara materiil dan citra dari merek dagang tersebut. Di Indonesia sendiri belum ada aturan khusus yang mengatur tentang syarat dan ketentuan bagi merek dagang atau perorangan di media sosial ketika menyelenggarakan giveaway.

Saat Giveaway Malah Jadi Ajang Pamer Kemewahan

Giveaway media sosial sebenarnya hanya satu dari sekian banyak teknik promosi untuk meningkatkan awareness dan loyalitas terhadap produk atau persona. Sayangnya tren ikoy-ikoy justru mereduksi peran pemasaran produk dan berpotensi melanggar hukum karena telah memunculkan keresahan bagi banyak pihak.

Ikoy-ikoy mengajarkan tentang bagaimana seorang figur publik dengan banyak followers, dalam hal ini YouTuber Arief Muhammad, dalam menghamburkan begitu banyak uang dan materi untuk hal-hal yang tidak krusial. Konten media sosial hari ini kerap dipenuhi dengan para figur publik yang ‘menghabiskan’ uangnya untuk kesenangan-kesenangan yang tak perlu. Kemewahan di media sosial seperti menjelma menjadi identitas baru yang diwajibkan bagi para selebgram agar terlihat instagrammable dan menjadi viral di dunia digital hingga akhirnya meningkatkan jumlah likes, comments, shares, reach, engagement, dan popularitas di ruang maya.

Secara psikologis, konten yang terkait dengan uang dan materi telah menjadi tolak ukur dari kesuksesan hidup. Dengan demikian, saat kreator konten terlihat mengumbar uang di media sosial, si kreator konten menciptakan suatu versi ideal tentang keberhasilan yang diingini oleh publik. Pada akhirnya itu memunculkan persepsi publik yang mengonsumsi konten tersebut jika keberhasilan adalah seperti apa yang dicitrakan oleh si kreator konten (George Gerbner, Cultivation Analysis). Pada akhirnya, publik hanya mendapatkan pemahaman dangkal tentang realitas yang sebenarnya.

Tentu sebenarnya tak ada salahnya dengan pemberian hadiah secara cuma-cuma. Justru ketika giveaway mengajukan persyaratan tentang keharusan memberi komentar atau postingan foto/video terbaik di laman media sosial, hal itu dapat mendorong kreativitas audiens yang mengikutinya dalam membuat konten terbaik yang tak terpikirkan sebelumnya.

Namun jika giveaway hanya menjadi ajang bagi sejumlah pesohor untuk menaikkan popularitas dan traffic, maka kita pun harus menjadi audiens cerdas yang memiliki martabat untuk tidak mengemis-ngemis. Bagaimanapun juga, netizen-lah yang paling sering dirugikan daripada sang selebritis yang mengadakan giveaway.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: