Kisah Babi Ngepet di Era Web 3.0

Cerita babi ngepet tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial pada minggu ini. Pasalnya seorang tokoh masyarakat di wilayah Sawangan, Depok mengungkapkan pada warga kampungnya jika telah terjadi praktik ilmu gaib yang menyebabkan dua orang kehilangan uang masing-masing sebesar Rp 1 juta.

Berita yang tersebar tentang motif tersangka berinisial AI itu jadi cukup membingungkan. Awalnya AI merekayasa cerita pencurian dan penangkapan babi ngepet tersebut adalah untuk menghilangkan kecemasan penduduk kampung yang mencari jawaban atas hilangnya uang warga. Namun ketika proses penangkapan babi direkam banyak warga, diunggah di media sosial lantas menjadi viral, polisi menangkap AI beserta teman-temannya dan menyatakan rekayasa AI bermotif panjat sosial (pansos) untuk memperoleh popularitas dengan cara menyebarkan hoax. AI pun terancam pidana 10 tahun.

Tak disangka efek pemberitaan tentang hoax babi ngepet di Depok ini berbuntut panjang pada seorang warga bernama Ibu Wati di Kampung Baru, Bojonggede, Bogor yang (mungkin) termakan kisah viral babi ngepet rekayasa AI. Ibu Wati menuduh tetangganya juga telah melakukan babi ngepet lantaran dianggap kaya tanpa bekerja. Karena dianggap mempermalukan nama kampung, Ibu Wati pun diusir oleh warga.

Kepercayaan Terhadap Babi Ngepet di Era Menjamurnya Online Shop

Babi ngepet memang bukan fenomena gaib yang asing bagi masyarakat Indonesia. Sejarawan Komunitas Historia Indonesia Asap Kambali mengungkapkan, praktik pesugihan babi ngepet telah ada pada masyarakat Jawa sejak tahun 1800an. Penjajahan Belanda pada masa itu menyebabkan banyak masyarakat yang sengsara dan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya pesugihan babi ngepet pun menjadi salah satu alternatif dalam meraup kekayaan secara instan. Babi menjadi simbol kerakusan dan binatang haram bagi masyarakat Indonesia yang juga sudah mayoritas Muslim saat itu.

Meski telah akrab dengan kisah klenik tersebut, masih terbersit pertanyaan. Mengapa di zaman teknologi 3.0 yang ramai dengan online shop, freelancer, hingga work from home yang jamak dilakukan pada masa pandemi ini, masih muncul kepercayaan terhadap babi ngepet?

Bagi yang berjualan online, julidnya tetangga ternyata bukan hanya dituduh melakukan perkara gaib untuk mengumpulkan banyak uang. Sumber: Instagram @ridwankamil

Salah seorang teman mengirimkan tulisan yang memaparkan sudut pandang unik mengenai viralnya babi ngepet ini. Penjelasannya mengemukakan jika terjeratnya AI dalam rekayasa hoax babi ngepet ini adalah karena framing media yang langsung menjustifikasi AI sebagai penyebar berita bohong.

Menurutnya, AI hanya bermaksud menyebarkan cerita tersebut untuk kalangan di kampungnya. Kemudian ketika warga beramai-ramai memviralkan video tersebut di jagad maya, media mainstream ikut mengambil bagian pemberitaan dan membombardir cerita tersebut sebagai kebohongan ke seantreo Nusantara. Hingga akhirnya muncullah prasangka hukum jika AI patut dipidana sebagai penyebar fake news.

Sebab Masyarakat Indonesia Adalah Pencinta Cerita

Viralnya cerita babi ngepet ini tak bisa sepenuhnya merupakan kesalahan media massa yang ikut menyebarluaskan kisah ini menjadi viral. Bagaimana pun, media mengangkat kisah tersebut berdasarkan video yang telah ramai beredar di media sosial. Premisnya adalah, segala yang telah diunggah di internet akan menjadi milik publik meski AI mulanya hanya berniat menujukan kisah tersebut pada warga kampungnya.

Beberapa antropolog meyakini jika kepercayaan terhadap kisah supranatural dan astral berawal sejak evolusi bagian otak yang disebut neocortex yang merupakan hasil evolusi tercanggih terhadap manusia sejak 500 tahun silam. Bagian ini lah yang memunculkan kemampuan kognitif, berbahasa, dan kepercayaan seperti animisme-dinamisme hingga agama (Dunbar, 2014).

Dengan berkembangnya kemampuan berbahasa, manusia pun menjadi mahluk pencerita, apalagi bila narasi tersebut menarik perhatian, melibatkan emosi individual, dan memiliki keterkaitan dengan kehidupan pribadi. Kisah tersebut akan lebih dinantikan, didengar, dan dipercaya sebagai suatu hal yang nyata dibandingkan penyajian argumen-argumen logis (Walter Fisher, The Narrative Paradigm, 1987).

Perkembangan dan kemudahan penggunaan teknologi serta aplikasi digital semakin meningkatkan aktivitas berbahasa manusia pada saat ini. Hanya perlu cerita yang unik tanpa mementingkan benar atau salahnya, suatu berita berpotensi menjadi viral dan begitu mudah menyebar lewat medium apapun.

Viralnya babi ngepet di platform media digital juga tak terlepas dari tingginya minat dan hasrat audiens terhadap kisah klenik/horor. Hoffner dan Levine (2007) mengungkapkan, selalu ada pada diri orang-orang untuk menikmati ketakutan dan kekerasan yang disebarluaskan di media. Untuk semakin menakuti dan mencekam psikologi khalayak, konten klenik/horor kerap didramatisasi untuk menghadirkan sensasi.

Selepas munculnya rekaman babi ngepet ini, beragam komentar netizen yang sensasional pun tak terelakkan sehingga memunculkan ketertarikan media mainstream untuk turut mengangkat beritanya. Kisah babi ngepet di media digital setidaknya telah memenuhi unsur news value bagi media mainstream, yakni keunikan (uniqueness), magnitude, human interest, dan pada akhirnya konflik (conflict). Karenanya semakin menyebar dan populer lah AI dkk dengan cerita babi ngepet-nya.

Mudahnya Audiens Termakan dan Menyebar Hoax

Babi ngepet semakin mempertegas tentang minimnya literasi media digital masyarakat dalam membedakan informasi yang benar dan salah. Begitu gampangnya masyarakat masih mempercayai sesuatu hanya karena yang menyampaikan pendapat tersebut merupakan seorang tokoh yang disegani, tanpa ada keinginan untuk mempertanyakan sumber kebenaran informasi. Ibu Wati bisa jadi adalah contoh dari kalangan yang masih minim pengetahuan tentang perkembangan teknologi informasi sehingga dengan penuh percaya diri menuduh tetangganya melakukan praktik klenik.

Tidak ada cara lain selain mendesak pemerintah untuk menerapkan literasi media agar lebih banyak masyarakat yang tercerdaskan dalam penerapan dan penggunaan teknologi digital. Karena dengan semakin banyaknya seliweran informasi dan tingginya kebebasan audiens dalam memproduksi dan mendistribusikan konten, akan semakin bodoh lah masyarakat apabila tidak diberikan pengetahuan literasi yang memadai (Bauerlein, 2008).

Dan, sekali perlu ditekankan pada masyarakat agar selalu bijak dalam bermedia. Jangan begitu saja menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Serta jangan pula begitu mudah percaya pada suatu hal hanya karena hal tersebut terasa cocok dengan nurani dan anchor/preferensi pribadi.

Ayo bersikap cerdas dan berwawasan dalam menggunakan media!

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: