(Masih Tentang) Kebiadaban Netizen +62

Terlepas dari kepercayaan agama dan kebajikan moral dalam memandang hubungan percintaan sesama jenis (lesbian dan gay), menyerang hingga mengancam seseorang lewat media sosial lantaran perbedaan preferensi seksual seseorang adalah suatu tindakan kriminal yang tidak bisa ditolerir.

Adalah Suriya Koedsang, seorang pria Thailand, yang mengepos momen pernikahan sesama jenis di laman Facebook pribadinya. Postingan tersebut kemudian memunculkan kemarahan Netizen +62 dengan beramai-ramai menyerang laman Suriya Koedsang dengan cacian hingga ancaman pembunuhan. Koedsang lalu melaporkan penyerangan warganet Indonesia ini kepada Network of Campaigning for Justice, dan saat ini advokat lembaga tersebut mengupayakan agar warga negara Indonesia tidak ada satupun yang diizinkan datang ke Thailand sebagai akibat tindakan mereka yang kejam di media sosial.

Kejadian viral tersebut benar-benar mengukuhkan klaim survei Digital Civility Index yang dikeluarkan oleh Microsoft tentang betapa biadabnya perilaku netizen Indonesia di ruang maya. Jika perilaku seperti ini terus dipertahankan, mungkin dalam 2-3 tahun ke depan Indonesia dapat menduduki posisi puncak sebagai pengguna internet paling biadab di dunia.

Selain mempertunjukkan kebiadaban kelakuannya di dalam percakapan media sosial, perilaku warganet ini turut pula diikuti dengan kedunguan dan ketololan. Telah beberapa kali netizen Indonesia salah menyerang akun media sosial, seperti penyerangan terhadap akun Instagram @dprlive pada saat penolakan pengesahan UU Omnibus Law yang dikira sebagai akun milik Dewan Perwakilan Rakyat. Padahal akun tersebut merupakan milik rapper Korea Selatan yang berarti Dream Perfect Regime.

Oh, Netizen… Sudah biadab, idiot pula! Main serang sembarangan tanpa mengecek dan memverifikasi sebelumnya.

Mengapa Netizen Indonesia Biadab?

Lingkungan digital Indonesia sangat tidak sehat sehingga mengakibatkan para pengguna saling menularkan perilaku toxic, seperti mengumbar komentar negatif berupa ujaran kebencian, penghinaan (bullying), hingga pelecehan (harassment).

Ada dua faktor utama yang menyebabkan netizen Indonesia seakan tak punya hati dalam berperilaku di media sosial.

Pertama, internet (terutama media sosial) memberikan semacam ‘ilusi’ yang menjadikan platform digital seolah-seolah sebagai perangkat untuk menyuarakan hal-hal yang tak berani diutarakan di dunia nyata (medium for the voiceless audiences). Dengan demikian, ilusi ini memberikan perasaan bahwa penggunanya bisa menyampaikan apa saja tanpa perlu takut adanya filter dari otoritas seperti editorial pers dan lembaga sensor di bawah pemerintah (Kalev Leetaru, 2018).

Sekilas peran media sosial sebagai medium for the voiceless tampak sangat baik karena mampu memberikan kesempatan pada kalangan terabaikan yang selama ini sangat takut untuk menyuarakan pendapatnya di dunia nyata akibat pengaruh dari pendapat mayoritas.

Ternyata pada praktek hari ini yang terjadi adalah komentar kebablasan para netizen sehingga tak ada bedanya yang terjadi di dunia maya dan dunia nyata. Malahan akhirnya ketika ada netizen yang berbeda pendapat dengan mayoritas warganet lainnya akan di-bully, dan terjadilah doxing hingga trolling yang mengakibatkan pembungkaman atau setuju dengan pendapat mayoritas warganet (Elisabeth Noelle-Neuwmann, Spiral of Silence, 1983).

Kedua, internet dan media sosial mengakomodasi kebebasan pengguna untuk mengonstruksi identitas daring yang sama sekali sangat berbeda (bahkan tidak berhubungan) dengan identitas si pengguna di dunia nyata. Kebebasan mengonstruksi identitas online ini memunculkan efek disinhibisi online yang membentuk persepsi bahwa pengguna internet sama sekali tidak memiliki konsekuensi apapun atas perbuatannya di dunia maya (Suler, 2004).

Saat penggguna internet dengan bebas membuat identitas anonim, muncul dan kemudian hilang begitu saja setelah selesai berkomentar, dan adanya imajinasi disasosiatif jika aktivitas di dunia nyata sama sekali terpisah dari dunia maya, maka si pengguna media sosial tersebut akan menjadikan dirinya sebagai yang maha benar sehingga tak akan mau memikirkan konsekuensi dari tindakannya tersebut kepada pengguna lain di dunia nyata.

Memperbaiki Keberadaban Netizen +62

Pada tulisan sebelumnya, ada beberapa alternatif yang saya tawarkan untuk mengurangi (jikapun tidak sepenuhnya bisa menghilangkan) kebiadaban Netizen +62. Namun sepertinya, peran institusi pendidikan dan pemerintah saja tidak cukup untuk mencegah keberlangsungan kebiadaban warganet Indonesia. Perlu adanya peran aktif dari penyedia platform digital dalam menyensor konten-konten dan komentar beracun warganet.

Laporan DCI yang menunjukkan tentang perilaku kesopanan warganet di seluruh dunia sekiranya bisa menjadi acuan bagi para provider media sosial untuk mengantisipasi munculnya konten-konten toxic. Dengan menggunakan artificial intelligence dan big data, sebenarnya sangat mudah bagi penyedia layanan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube untuk langsung memblokir akun yang kerap mengumbar kebiadaban di media sosial.

Hal yang sama pernah dilakukan oleh Twitter saat menghapus akun Twitter Donald Trump secara permanen. Maka akun-akun serupa pun dapat dideteksi dengan mudah dan kemudian bisa segera diblokir oleh penyedia layanan media sosial.

Dalam hal ini memang dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan provider media sosial untuk menghapus komentar dan akun pengguna yang hanya membawa racun dan kebengisan di ruang digital. Inilah yang seharusnya menjadi tugas utama dari patroli siber yang telah dibentuk oleh Kepolisian Republik Indonesia beberapa waktu silam.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: