Hoax, Public Figure, dan Literasi Media

Mencuatnya kasus video YouTube pemusik Erdian Aji Prihartanto (Anji) dengan Hadi Pranoto yang berisi tentang penemuan obat Covid-19 tengah menjadi sorotan. Pasalnya, Anji sebagai pesohor tanah air dengan lebih dari dua juta followers di akun media sosialnya dianggap telah menyebarkan berita bohong (hoax) dengan mewawancarai seseorang yang latar belakang keilmuannya diragukan.

Tampilan konten Anji dalam akun YouTube merupakan sebuah hoax yang tidak bisa disangkal lagi. Pertama, ketika Anji menyebutkan adanya obat untuk penyembuhan Covid-19. Padahal saat ini seluruh ahli pengobatan dan ilmuwan di seluruh dunia masih berjibaku untuk menemukan vaksin Virus Corona tersebut. Sekarang pun masih diatur mekanismenya untuk diujicobakan kepada manusia. Otoritas badan kesehatan internasional seperti World Health Organization (WHO) masih mengklaim belum ada vaksin/obat yang bisa menyembuhkan Covid-19.

Kesalahan kedua Anji adalah dengan mewawancarai seseorang yang kapasitas pengetahuannya masih dipertanyakan. Entah niatnya untuk menaikkan jumlah viewers dan subscribers dengan memberikan judul tak kalah fantastis (“Bisa Kembali Normal? Obat Covid-19 Sudah Ditemukan!!). Anji dan tim kreatifnya telah gagal mengidentifikasi sosok Hadi Pranoto sehingga konten akhirnya mengandung kebohongan.

Hoax yang Penuh Daya Tarik

Asal mula hoax sendiri sebenarnya sudah berlangsung lama. Dalam bukunya Sins Against Science, Lynda Walsh menyebutkan kata hoax (yang diambil dari kata hocus pocus dan Bahasa Latin hoc est corpus) merupakan semacam ‘mantra’ yang diucapkan penyihir ketika sedang menipu agar terlihat  seperti kebenaran. Kata ini pertama kali disebutkan pada tahun 1808 saat Revolusi Industri tengah menggeliat.

Di era digital, hoax semakin populer akibat cuitan dan obrolan warganet di media sosial. Penyebarannya semakin tak terkendali, sebab tampaknya semua orang di dunia maya ingin menjadi orang yang pertama tahu dan menyebarkannya ke orang lain agar kelihatan pula seperti yang pertama kali memperoleh informasi. Akibatnya, verifikasi tentang kebenaran fakta kerap diabaikan.

Penelitian dari Massachusetts Institute of Technology juga mengungkapkan jika hoax memang memiliki kemungkinan tersebar secara lebih masif sebab hoax selalu mengandung topik yang lebih menarik dibandingkan fakta sebenarnya. Selain menarik, hoax juga kerap memiliki unsur kejutan. Maka dari itu, tak heran jika banyak orang lebih tertarik menyebarkan hoax (Sahrul Mauludi: Socrates Café, 2018).

Suburnya Pertumbuhan Hoax

Ada dua faktor yang Penulis identifikasi sebagai penyebab menjamurnya hoax, terutama di era digital ini. Perlu pula diingatkan, penyebaran hoax ini kebanyakan bukan disebarkan oleh akun bot seperti anggapan banyak orang. Melainkan manusia sendiri yang menjadi agen penyebarannya.

  1. Iklim demokrasi + ego sang figur publik

Negara yang menganut sistem demokrasi memiliki keunggulan dalam mengembangkan opini publik. Negara demokratis memberi kebebasan pada warga negara untuk bereskpresi dan berpendapat. Kebebasan itu semakin menguat dengan adanya media sosial yang menjadikan semua orang memiliki kekuatan untuk bersuara.

Kekuatan dalam menyuarakan pikiran ini pada akhirnya menumbuhkan suatu pride pada para pemilik akun media sosial, apalagi jika akun tersebut memiliki banyak followers/subscribers seperti selebgram dan figur publik. Hampir segala pernyataan dan perilaku sang pesohor akan menjadi sorotan yang diikuti oleh para followers.

Sayangnya kondisi ini memunculkan ego yang tinggi pada sang figur public tersebut. Sang pesohor tersebut merasa memiliki ‘otoritas’ untuk berbicara apa saja, termasuk tentang hal yang bukan merupakan kapasitasnya.

Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump memiliki 84,6 juta pengikut di Twitter. Di dunia nyata, dia adalah seorang presiden yang memiliki otoritas tertinggi untuk mengatur sebuah negara. Di dunia maya, figurnya pun sangat populer. Satu kali cuitannya di Twitter akan di-Retweet ribuan kali.

Namun ketika Trump mencuit tentang anak-anak sebagai kategori usia yang hampir kebal terinfeksi Virus Corona, Facebook dan Twitter merasa sangat perlu untuk menghapus postingan tersebut sebab dinilai sangat menyesatkan. Tidak ada kategori usia apapun yang kebal terhadap infeksi Corona!

Trump memang seorang presiden. Tapi dia tidak memiliki kapasitas keilmuwan untuk berbicara tentang Covid-19. Ditambah lagi arogansinya dalam menyikapi data-data ilmiah yang dihasilkan para ilmuwan. Lengkap sudah menjadikan Trump sebagai orang yang tidak bisa dipercaya ketika membicarakan perkara saintifik.

  • Budaya Lisan yang Kalah Populer dibanding Tulisan

Data dari We Are Social 2020 menunjukkan, ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia dari total populasi 272,1 juta orang. 160 juta orang di antaranya adalah pemilik akun media sosial dengan media sosial YouTube berada di puncak sebagai media sosial yang paling banyak diakses, disusul oleh WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter. Para pengguna internet aktif di Indonesia pun menghabiskan 7 jam 59 menit waktu mereka untuk mengakses internet, dan 3 jam 26 menit dalam menggunakan media sosial.

Merupakan sebuah ironi ketika mengetahui justru tingkat literasi membaca Indonesia sangat rendah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengukur rata-rata tingkat literasi membaca nasional hanya mencapai 37,32%. Sedangkan waktu yang dihabiskan mayoritas pengguna internet dalam mengakses internet hampir 8 jam. Netizen ngapain aja selama itu?

Penggunaan media sosial sebenarnya semakin menyuburkan budaya lisan (mengobrol) meskipun penggunaannya mewajibkan jempol untuk mengetik dan hasil akhirnya merupakan sebuah kalimat (tulisan). Empat dari lima besar platform media sosial yang sering dipakai di Indonesia adalah platform yang pada dasarnya memfasilitasi pengguna untuk mengobrol, berkomentar, dan bercerita.

Jika netizen tidak bijak dalam memverifikasi fakta, obrolan yang mengandung hoax jadi begitu mudah menyebar. Pepatah “mulutmu harimaumu” masih berlaku, walau mungkin kondisi saat ini lebih menunjukkan “jempolmu harimaumu”.

Menjadi Seorang Pembaca

Para penyedia layanan media sosial telah berupaya untuk menekan penyebaran hoax dengan menyediakan fasilitas report jika dirasa konten tersebut mengandung kebohongan, pelecehan seksual, penistaan SARA, dan hate speech. Bahkan penyedia tak segan menghapus postingan tersebut jika memang dinilai sangat membahayakan, seperti YouTube yang akhirnya menghapus video Anji.

Tidak ada cara lain untuk menangkal hoax selain kebijakan diri sendiri lewat peningkatan literasi media. Tidak perlu menjadi seorang ahli media untuk memiliki literasi mumpuni. Cukuplah hanya dengan menjadi seorang pembaca. Buku, majalah, artikel ilmiah, artikel online, komik serial silat, kolom fashion dan kecantikan, bahkan portal berita gosip selebritis sekalipun! Apa saja, yang penting baca dari awal hingga akhir, dan lakukan lagi dengan bacaan lainnya ketika bahan bacaan sudah selesai.

You know what? Menjadi pembaca merangsang dan melatih kita untuk cenderung membandingkan sumber bacaan yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, tanpa disadari pembaca telah mengasah kemampuan untuk mencari validitas dan kebenaran dari suatu argumen. Walau presiden sekalipun yang mengatakan, seorang pembaca tak akan langsung percaya sebelum menemukan fakta lain yang mendalam.

Maka jadilah pembaca!

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

4 tanggapan untuk “Hoax, Public Figure, dan Literasi Media

  1. Tapi jadi pembaca di era ledakan informasi kayak gini jadi tantangan banget.. gimana kita harus memilah hal-hal yang mau kita baca di antara segitu banyaknya informasi. Setelah baca juga harus kita verif apakah infonya bener atau nggak. Kadang udah merasa bener dan percaya, ternyata bacaannya ga valid

    Suka

    1. Gak apa, Mbak. Kalo banyak sumber yang dibaca, nanti kan kita bisa menarik kesimpulan secara umum. Fakta mana yang lebih banyak muncul dan disebutkan. Dan mencari sumber bacaan memang tricky. Tapi kalau saya pribadi tidak pernah menjadikan wikipedia sebagai sumber. Portal berita juga yang terverifikasi seperti Kompas, Tempo, CNN Indonesia.

      Memang harus dilatih banyak mmembaca agar terbiasa. Nanti kita juga akan tahu sendiri mana sumber bacaan yang memang verified.

      Suka

      1. Betul juga ya Mba, harus banyak baca dan pinter2 identifikasi sumber bacaan yang verified.

        Kadang bingungnya sama socmed yang ada algoritmanya sendiri, misalnya kaya explore di Instagram yang nampilin hal2 yg kita suka, jadi kita terpaparnya konten yang temanya itu itu lagi hahaha. Misalnya kalo aku suka Trump, explorenya jadi postingan2 tentang keunggulan Trump, ga bakal muncul postingan yg mengecilkan dia, jadi konten yang kulihat menyempit di keunggulan Trump dan aku ga bakal tau kekurangan kekurangannya

        Itu sih, jadi aku bingung kalo liat sosmed karena algoritmanya cuma nampilin konten2 yg kemungkinan besar akan kita like

        Suka

    2. Dan menjadi acuan juga, jangan menjadikan postingan status di media sosial sebagai sumber utama. Status di medsos itu kebanyakan opini pribadi, terkadang bersifat emosional. Jadi tdk bisa jadi acuan utama.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: