Covid-19 dan Upaya Membangun Narasi Post-Truth

Baru-baru ini viral di jagad maya tentang sejumlah petugas Tertib Masker yang memasukkan seorang pria ke dalam peti mati lantaran orang tersebut tak mengenakan masker. Masih berkaitan dengan peti mati juga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun sejumlah Tugu Peti Mati yang tersebar di beberapa wilayah Jakarta, lengkap dengan info terkini mengenai jumlah penderita dan yang meninggal akibat Covid-19 di Jakarta.

Tampaknya himbauan dan ajakan lunak untuk menyadarkan masyarakat tentang betapa berbahayanya virus Corona sudah kerap diabaikan dan tak lagi digubris. Perlu hentakan dan ‘ancaman’ (yang disimbolkan dengan peti mati) agar menggugah akal sehat orang-orang tentang ancaman Covid-19.

Mengapa Justru Orang-Orang Semakin Abai?

Pandemi ini adalah masa paling rawan dalam menyebarkan fake news, terutama di media sosial yang nyaris tanpa filter. Konten-konten yang mengandung referensi non-ilmiah dan tak bisa dipertanggungjawabkan justru malah beredar lebih cepat dan viral, sebab penyebaran konten tersebut sering ‘disponsori’ oleh para public figure dan influencer. Fame factor (faktor keterkenalan) kerap menjadi rujukan banyak audiens media sosial ketika informasi tersebut berasal dari orang-orang yang terkenal. Faktor expertise (keahlian keilmuan) seseorang jarang menjadi pertimbangan audiens untuk menjadi rujukan informasi.

Itulah mengapa grup anti-vaksi atau ‘komunitas’ yang menganggap Corona tak separah flu biasa semakin banyak, sebab ‘gerakan’ ini diamini salah satunya oleh musisi fenomenal Jerinx SID. Mengapa masyarakat pun kerap meremehkan penyebaran virus ini juga dikarenakan sikap pemerintah yang tak pernah bisa mengambil sikap tegas dalam upaya mengurangi laju penyebaran virus. Dari mula pemerintah cuma berkelakar sembari menyebarkan jargon-jargon yang membuat publik bingung dengan beragam istilah: PDP, ODP, PSBB, PSBB Transisi, New Normal (yang kemudian diganti menjadi Kebiasaan Baru).

Sembari membuat istilah-istilah, beberapa pihak turut pula mencari panggung politik demi ‘membalas sakit hati’ akibat kekalahan pada Pemilu 2019 silam sambil pula menarik simpati publik untuk kepentingan pilkada serentak mendatang.

Post-Truth Masa Pandemi

Kita berada dalam era post-truth yang ditandai dengan semakin menguatkan sentimen emosional ketimbang logika yang didukung fakta-fakta ilmiah. Sentimen emosional tersebut semakin menguat dikarenakan komunikator yang membangun narasi tersebut dirasa memiliki kedekatan tertentu dengan publik (dalam hal ini bisa berupa selebritis yang lakonnya selalu menjadi panutan, atau tokoh yang memiliki kedudukan tinggi dalam sistem sosial maupun pemerintahan).

Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century menyatakan, Homo sapiens (manusia) merupakan spesies post-truth yang kerap menciptakan cerita-cerita fiksi dan kemudian terus mengulang-ulangmua hingga akhirnya semua orang meyakini fiksi tersebut sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Tampaknya upaya-upaya itulah yang dilakukan pemerintah pada hari ini dengan membangun narasi-narasi fiksi yang menggambarkan seolah-oleh keadaan di Indonesia sudah baik-baik saja ‘selama mematuhi protokol kesehatan’. Wacana-wacana yang dibangun tersebut antara lain seperti kembali mengaktifkan moda transportasi umum dengan kapasitas penumpang mencapai 70%, memberikan promo wisata pada turis domestik untuk melancong ke berbagai destinasi dalam negeri, hingga menyatakan bahwa menonton bioskop mampu membuat manusia kebal terhadap virus Corona.

Maka tak heran jika wacana yang didengungkan ini menjadi ‘kepercayaan’ masyarakat bahwa ternyata Corona memang tak separah itu. Pada kenyataannya, narasi-narasi ini justru dibangun hanya untuk melindungi kepentingan ekonomi kapitalis, bukan demi kesehatan dan keselamatan warga.

Mungkin Harus Terinfeksi Dulu

Kembali pada persoalan peti mati, sesungguhnya pendirian monumen hingga memasukkan orang ke dalam peti mati merupakan sebuah upaya simbolik yang mengancam publik untuk sadar akan bahaya virus.

Namun bahasa simbolik pada dasarnya tergolong dalam kategori komunikasi tingkat tinggi yang perlu diterjemahkan menjadi makna eksplisit. Seringkali makna yang tertuang dalam bahasa simbolik tidak ditanggapi secara sama oleh si penerima pesan. Perbedaan kultur, preferensi, dan latar belakang sosial akan menyebabkan bahasa simbolik dimaknai secara berbeda.

Peti mati memang jelas menunjukkan makna kematian secara implisit dan eksplisit. Namun ke depannya, penggunaan bahasa simbolik bukanlah cara yang tepat untuk mengomunikasikan bahaya Covid-19. Dengan bahasa yang lugas pun masih banyak orang yang bandel dan tak percaya tentang bahaya virus Corona.

Bukan bermaksud mendoakan ataupun mengungkapkan hal-hal kasar. Namun pengalaman terinfeksi jauh lebih mujarab untuk meningkatkan kesadaran warga dibandingkan dengan sekedar jargon atau himbauan. Tampaknya masyarakat yang bandel perlu dibiarkan terinfeksi Corona hingga benar-benar mengetahui ancaman sebenarnya.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson harus terlebih dulu terinfeksi Corona sehingga mengetahui potensi mematikan virus ini. Sebelumnya sang pemimpin populis sayap kanan ini malah menghimbau rakyat Inggris untuk beraktivitas dan berkerumun seperti biasa. Di Indonesia, kebijakan PSBB pun diberlakukan oleh Presiden Joko Widodo setelah salah satu menterinya mengidap virus ini.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: