Webinar: Candu Baru Tren Digital

Mulai pertengahan April lalu telah terasa riuhnya traffic penyelenggaran webinar yang wara-wiri muncul di media daring, terutama lewat feed dan story Instagram serta grup instant messenger Whatsapp. Ditambah dengan banyaknya pilihan aplikasi video conference yang digunakan untuk ‘bertatap muka’ selama pandemi Covid-19, tak urung beragam individu hingga organisasi menggunakan kesempatan tersebut untuk mengadakan pertemuan bermanfaat yang menarik netizen.

Beragam alasan mendasari penyelenggaran webinar. Bagi yang menyelenggarakannya secara gratis, webinar menjadi medium soft marketing untuk meningkatkan brand awareness si penyelenggara.

Yang menarik biaya pun lain pula alasaanya. Ada yang bertujuan untuk mengumpulkan donasi supaya bisa disalurkan pada kalangan yang rentan terdampak Covid-19. Ada juga yang memang menjadikan ini ajang monetizing bagi perusahaan yang kegiatan produksinya melambat selama penyebaran Coronavirus. Peserta pada webinar berbayar pada umumnya akan diberikan materi dan mendapat sertifikat elektronik.

Gaya Hidup Digital di Masa Pandemi

Data yang dihimpun oleh We Are Social dan Hootsuite pada Januari 2020 lalu menyatakan, rata-rata pengguna menghabiskan waktu untuk mengakses internet selama 6 jam 43 menit. Selama pandemi yang membatasi segala aktivitas dengan berdiam diri di rumah, aktivitas di depan layar gawai meningkat menjadi 70-80 persen.

Terjadi pemindahan secara ekstrem dari offline ke online. Tadinya mengakses internet lewat perangkat mobile digunakan untuk mencari informasi (membaca berita) dan sumber hiburan alternatif (movie streaming hingga update dan pengecekan media sosial), kini kegiatan yang sifatnya produktif seperti menyiapkan pekerjaan kantor hingga mendampingi belajar anak telah beralih ke depan layar gawai.

Maka tak heran untuk meningkatkan produktivitas pengguna internet, webinar menjadi kegiatan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan penajaman skill tertentu yang dulunya didapat dari pelatihan-pelatihan offline yang cenderung diselenggarakan di ballroom hotel atau kelas semi-formal. Harga yang dipatok untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut cenderung mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Zoom menjadi salah satu aplikasi video conference yang paling sering digunakan untuk menyelenggarakan webinar.

Tapi webinar memangkas harga pelatihan tersebut menjadi ratusan ribu rupiah saja dengan kualitas materi dan pembicara yang tetap premium. Apalagi di tengah pandemi ini, semua orang tentunya berpkir untuk melakukan penghematan anggaran.

Candu Webinar

Selama masa pandemi, webinar telah menjadi gaya hidup baru masyarakat. Para produsen (pemilik usaha dan kreator konten) dan konsumen berebut ingin menjadi bagian dari tren digital yang sedang happening saat ini. Meminjam istilah sosiolog Perancis Jean Baudrillard, hari ini webinar adalah suatu ‘ekstasi’ yang melampaui kekuasaan masyarakat kontemporer terhadap suatu objek dan peristiwa (Fatal Strategies, 1983).

Webinar menjadi candu dalam kondisi ‘the new normal‘ saat ini, di mana ada semacam perasaan yang tumbuh jika tidak pernah mengikuti (setidaknya satu kegiatan) seminar online ini, maka diri tidak tergabung dalam komunitas yang sedang hits. Perasaan ingin menjadi bagian dari sebuah tren adalah penting sebagai pengakuan eksistensi.

Pada akhirnya, kejenuhan dalam sebuah tren akan berujung pada ketidakpedulian dan sikap apatis. Dengan terlalu banyaknya seliweran informasi tentang penyelenggaraan webinar, kejenuhan akan tercipta dan orang tidak akan menganggap tren tersebut menjadi penting lagi. Momentum kehebohan webinar akan segera berakhir, terutama bila nanti pemerintah mulai melonggarkan aturan PSBB pada Juni mendatang.

Namun bukan berarti webinar menjadi tak relevan lagi di masa mendatang, bahkan setelah pandemi virus Corona berakhir. Jauh sebelum dunia global dilanda penyebaran virus, webinar telah banyak diselenggarakan, terutama apabila narasumber dalam seminar daring tersebut terkendala jarak dan waktu untuk menyampaikan materi.

Penyelenggaraan webinar bisa saja menjadi opsi utama pemberian pelatihan dan seminar di masa mendatang, karena pada hari ini sudah banyak orang yang cenderung merasa nyaman dengan keadaan ‘the new normal’. Hanya saja, penyelenggaraan webinar ke depannya akan lebih eksklusif untuk peserta yang sudah ditetapkan segmennya agar tidak menimbulkan kejenuhan traffic informasi di jagad maya.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: