Tik Tok, Korban Kesalahpahaman

Keputusan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk memblokir aplikasi video Tik Tok merupakan sebuah aksi dangkal dengan dalih menyelamatkan generasi muda dari konten media yang tidak patut. Tik Tok menjadi korban gagal paham pemerintah dan beberapa kalangan masyarakat yang tidak mengerti dengan pola produksi-konsumsi platform media digital.

Pemblokiran Tik Tok tidak akan membawa pengaruh signifikan bagi para pengguna internet. Aplikasi di dunia maya ibarat pepatah “Hilang Satu Tumbuh Seribu”. Pepatah lainnya “Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi” menjadi falsafah berselancar bagi para netizen Indonesia yang kreatif dalam menciptakan peluang baru berekspresi di dunia maya.

Ketahui Pola Perilaku Bermedia

Tik Tok bukan satu-satunya medium jejaring sosial di internet yang dapat mengunggah video-video berkonten tidak layak. Masih ada YouTube, Facebook, Snapchat, dan sederet panjang nama-nama aplikasi lainnya.

Jika pemerintah dan masyarakat ingin menyelamatkan generasi muda dari bahaya konten-konten media yang berbahaya, maka perhatikan pola media behavior para pengguna konten. Jadi, masalah utama bukan terletak pada aplikasi yang dipakai, melainkan pada perilaku bermedia pengguna internet.

Ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku bermedia individu, dan masing-masing memiliki perilaku yang unik karena beragam perbedaan lingkup keberadaan:

Pertama, adanya pengaruh dari orang-orang terdekat (significant others) seperti orang tua dan teman bermain yang terlibat aktif dalam menggunakan internet. Ketika semua orang-orang di sekelilingnya menggunakan aplikasi internet yang sama, akan ada rasa terkucil dari pergaulan apabila individu juga tidak ikut menjadi bagian dari tren yang sedang digandrungi oleh orang lainnya.

Saat banyak anak-anak menjadikan Tik Tok sebagai salah satu medium eksistensi, anak-anak lainnya juga akan mengikuti hal serupa agar memiliki eksistensi yang sama dengan anak-anak sebayanya. Perasaan tersebut juga dialami oleh pengguna internet dewasa.

Hal ini tidak hanya berlaku bagi Tik Tok. Ketika nanti ada aplikasi lain yang menjadi hits di kalangan para pengguna internet, pola yang sama akan kembali berulang pada aplikasi baru tersebut.

Kedua, melihat intensitas penggunaan media. Jika pengguna sangat engage dengan platform media tersebut, maka kedekatan dan keterlibatannya terhadap medium tersebut juga akan semakin tinggi dan kuat. Kedekatan dan keterlibatan ini bisa mempengaruhi aspek emosional pengguna karena adanya dorongan di diri pengguna untuk bisa melampaui pencapaian pengguna lainnya.

Tidak heran jika banyak pengguna Tik Tok rela membuat konten nyeleneh hanya demi mendapatkan ribuan likes dan penambahan followers. Pencapaian ini merupakan bentuk harga diri dan apresiasi pengguna di ruang maya.

Menyelamatkan Anak-Anak Dari Konten Tak Layak

Kebebasan mengakses teknologi oleh siapa saja menjadi momok menakutkan bagi orang tua yang khawatir anaknya menjadi korban konten tak layak di internet. Sayangnya, rasa takut tersebut tidak berbanding lurus dengan tindakan nyata yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua terhadap perilaku konsumsi media anak-anak mereka.

Saat ini, hampir semua anak-anak (bahkan sejak berusia balita) terlihat sudah mulai memegang gadget seperti smartphone maupun tablet. Masalah terbesarnya, anak dibiarkan mengakses konten sendiri tanpa didampingi oleh orang tua. Pendampingan yang dimaksud di sini adalah turut sertanya orang tua mengomentari konten yang ditonton/dibaca anak, pembatasan konten-konten yang boleh diakses, hingga pelarangan akses terhadap konten berbahaya.

Bila orang tua tidak melakukan pendampingan terhadap konten-konten yang sering diakses oleh anak, jangan salahkan jika pemikiran anak tercemar oleh pengaruh-pengaruh negatif yang dia dapatkan dari internet. Pada dasarnya, anak-anak masih mempelajari dunia dan belum memiliki preferensi tersendiri. Tugas orang tua adalah mengajarkan dan menanamkan agar anak-anak kelak memiliki preferensi positif, termasuk dalam hal memilih konten media.

Terapkan Literasi Media di Pendidikan Dasar Anak

Sekali lagi, pemblokiran aplikasi bukan merupakan cara utama yang harus dilakukan pemerintah jika memang ingin menyelematkan anak-anak dari pengaruh negatif konten media. Sudah saatnya pemerintah menganggap serius persoalan media ini dengan cara menerapkan kurikulum literasi media pada sistem pendidikan dasar.

Pentingnya pengajaran mengenai literasi media pada pendidikan dasar anak-anak merupakan salah satu upaya penanaman, pembekalan, dan pengajaran terhadap generasi muda agar kelak tidak terjerumus dalam hal-hal negatif dari media. Apalagi internet dan media sosial nantinya merupakan medium yang akan mendominasi interaksi dan kehidupan masyarakat.

Jaringan internet yang tanpa batas dapat menjadi ajang kreativitas. Di sisi lain dapat juga menjadi sarana penyebaran kejahatan seperti cyberbullying, hate speech, cybercrime, dan lainnya. Maka dari itu, pemberian literasi media terhadap anak-anak merupakan suatu keharusan agar generasi selanjutnya justru menjauhi hal-hal tidak pantas di dunia maya.

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: