Bisnis Hoax Para Buzzer

Persaingan politik yang kian memanas jelang Pemilu 2019 mengharuskan tiap kubu untuk mulai mengambil langkah strategis demi mengamankan kemenangan posisi politik. Langkah tersebut tidak hanya dipersiapkan oleh para kontestan pemilu seperti calon legislatif, pengurus partai politik, hingga calon presiden dan wakil presiden, melainkan juga para pendukung dan simpatisan politik yang nanti akan menjadi pemilih di pesta demokrasi tahun depan.

Tak dapat dipungkiri jika penggunaan internet merupakan salah satu medium yang paling aktif untuk menyebarkan pesan kampanye politik. Ketika secara offline diterapkan masa tenang sebelum hari-H pemilihan, dunia maya masih terus ramai dengan kicauan-kicauan politik, bahkan hingga proses pemilihan telah usai. Dengan demikian, kampanye tetap terus berlanjut.

Media sosial telah menjadi salah satu platform kampanye krusial yang tak boleh diabaikan. Tak heran jika pada akhirnya, partai politik dan politisi berebut untuk menciptakan citra yang baik lewat akun-akun media sosial yang memiliki pengaruh  besar di kalangan netizen, dengan kata lain memanfaatkan para buzzer.

Buzzer media sosial adalah akun yang memiliki pengaruh dan otoritas di kalangan para netizen untuk menciptakan sebuah topik pembicaraan di media sosial. Meskipun acapkali buzzer diidentikkan dengan jumlah followers yang banyak, standar keberhasilan percakapan yang dibuat oleh buzzer dilihat dari seberapa sering percakapan tersebut disebarkan oleh para pengguna media sosial lainnya. Jumlah followers memang dapat mempengaruhi banyaknya penyebaran pesan, namun tak selalu menjadi tolak ukur utama.

Bisnis Buzzer Untuk Menyebarkan Hoaks

Riuhnya penggunaan buzzer pada saat kampanye pada akhirnya memunculkan persaingan antara partai politik dan sejumlah politisi. Masing-masing ingin mengungguli yang lain, sehingga konten kampanye di media sosial pun dimanipulasi untuk menyebarkan kebohongan dan ujaran kebencian.

Wawancara kantor berita Inggris The Guardian dengan salah satu mantan buzzer politik Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) pada saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 silam cukup menggambarkan gempita bisnis penggunaan buzzer untuk mendongkrak citra dan popularitas politisi, sekaligus pula untuk menjatuhkan lawan politik.

Para buzzer diminta untuk membuat beragam akun media sosial palsu untuk memperbanyak dan mengefektifkan penyebaran pesan politik. Agar semakin menarik minat pengguna media sosial lainnya, tak jarang akun tersebut menampilkan foto perempuan cantik yang dapat mendongkrak jumlah pengikut di akun media sosial.

Konten terkait suku, agama, dan ras merupakan isu yang paling laris ditulis buzzer pada saat kampanye politik. Isu-isu ini dapat menumbuhkan sentimen negatif terhadap partai politik dan politisi tertentu sehingga memunculkan rasa tidak suka hingga kebencian terhadap figur tersebut.

Penyebaran pesan kebencian dan hoax menjadi salah satu bisnis yang paling menguntungkan. Buzzer penyebar hate speech ini bisa meraup keuntungan Rp 700 juta per tahun hanya dengan memproduksi konten-konten negatif di sejumlah akun media sosial palsu. Bahkan supply and demand dalam bisnis penyebaran kabar hoax ini mirip dengan peredaran narkotika yang memiliki penjual dan pelanggan. Situs Saracen yang diblokir oleh pemerintah adalah contoh dari maraknya bisnis penyebaran berita palsu yang menggunakan isu agama.

Target Para Buzzer

Sasaran utama dari para buzzer penyebar hoax  dan ujaran kebencian ini bukanlah kalangan generasi muda (Millenials dan Generasi Z) yang sudah akrab dengan penggunaan dan penerapan teknologi sebagai medium komunikasi utama, melainkan para Generasi X yang merupakan digital immigrants yang lahir sebelum kemunculan komunikasi digital dan saat ini masih beradaptasi menggunakan teknologi komunikasi digital.

Pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia Firman Kurniawan mengatakan, para digital immigrant ini umumnya merupakan tokoh panutan yang mampu menggiring opini publik. Ketika pesan bernuansa kebencian dan kebohongan turut disebarkan oleh mereka, maka orang-orang yang mengagumi dan mencontoh mereka akan ikut pula mengamini pesan kebohongan tersebut.

Langkah-langkah Bijak yang Dapat Ditempuh

Audiens memiliki preferensi khusus dalam mencari dan memilih berita yang ingin mereka ketahui. Namun secara umum, preferensi tersebut haruslah memiliki dua prinsip. Pertama, konten berita tersebut harus tampak nyata dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Intinya berita tersebut mengandung informasi yang tidak lebay dan ‘memungkinkan’ untuk terjadi pada kehidupan yang sebenarnya.

Hanya saja sebuah berita tidak akan tampak menarik jika tidak memiliki prinsip yang ke-2 ini, yakni adanya tambahan ‘bumbu’ dan ‘aksesoris’ pada konten berita yang membuat audiens tertarik terhadap isi informasi tersebut. Meski demikian, bumbu dan aksesoris ini tetap harus mencerminkan realita masyarakat yang sebenarnya (W. James Potter, 2013).

Audiens memiliki potensi terpapar hoax dikarenakan konten berita palsu memiliki dua prinsip tersebut yang memungkinkan orang-orang terus ‘menikmati’ dan mengkonsumsi informasi bohong tersebut. Konsumsi informasi hoax ini kemudian berubah menjadi hasrat sehingga audiens menjadi candu untuk terus terpapar konten berita palsu (Edward Steers Jr, 2013).

Walau berita palsu dan ujaran kebencian tampaknya tidak dapat dihilangkan, ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk meminimalisir dampak penyebaran hoax dan hate speech yang disebarkan para buzzer.

  1. Jangan pernah menjadikan informasi dari media sosial sebagai sumber informasi utama.

Setelah kita ketahui adanya bisnis buzzer dengan akun palsu yang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian, jangan pernah lagi percaya dengan segala berita yang disebarkan melalui akun media sosial. Pastikan informasi tersebut berasal dari sumber yang terpercaya, seperti kantor berita yang telah memiliki kredibilitas (ANTARA, Kompas, CNN, dan lain-lain) karena kantor berita memiliki mekanisme pertanggungjawaban atas informasi yang mereka sebarkan.

  1. Konfirmasi kebenaran informasi dengan membandingkan isinya dengan sumber yang lain.

Jangan hanya berhenti membaca dari satu sumber. Cek lagi kesamaan isi berita dari sumber lain. Jika banyak sumber mengatakan hal yang sama, bias dipastikan jika berita tersebut benar. Namun sekali lagi yang perlu ditekankan, sumber tersebut harus memiliki kredibilitas yang baik.

  1. Jangan turut menyebarkan informasi kepada orang lain jika Anda sendiri masih ragu dengan kebenarannya.

Lagi-lagi, jika kebenaran informasi belum diverifikasi, jangan pernah menyebarkan informasi kepada orang lain karena berarti Anda turut andil dalam menyebarkan kebohongan. Masalahnya, penyebaran informasi hoax dan hate speech tetap saja marak karena sifat audiens Indonesia yang malas membaca, namun di satu sisi ingin dianggap sebagai orang yang pertama tahu mengenai suatu berita. Akibatnya tanpa verifikasi, informasi langsung saja disebarkan tanpa kejelasan kebenaran.

  1. Jangan malas membaca dan mencari informasi.

Kunci penting dalam penerapan literasi media adalah dengan rajin membaca dan terus mencari informasi sampai kebenaran informasi dapat dibuktikan.

 

Diterbitkan oleh Elle Zahra

Graduated from Communication Science of University of Indonesia, both in bachelor and master degree. Media observer and media literacy activist. Concern in digital society related to political communication, feminism, and culture issues.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: