Penelitian ini hendak melihat bagaimana politisi perempuan mengupayakan strategi untuk melawan kekerasan simbolik di media. Bentuk perlawanan tersebut ditampilkan melalui mitos tentang pencapaian domestik sebagai narasi tandingan yang melawan narasi dominan patriarki dalam pemilu eksekutif. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan gagasan perlawanan kekerasan simbolik yang ditawarkan oleh Perse (2008). Pemikiran Perse tersebut mampu menawarkan kerangka teoretis yang relevan untuk memahami dan mengkaji dinamika kekerasan simbolik yang berakar kuat pada efek media, representasi sosial, dan komunikasi politik.
Dalam konteks media dan perempuan, kekerasan simbolik dipahami sebagai reproduksi stereotip dan norma sosial yang mengekang eksistensi perempuan akibat penerapan hegemoni patriarki (van Dijk & van Holsteyn, 2022; Han & Heldman, 2007). Sebagai arena utama yang mereproduksi nilai dan norma-norma budaya, media memiliki peran dominan untuk melanggenggkan citra perempuan yang ditampilkan secara terbatas hanya pada ruang domestik yang subordinatif (Akalili & Sari, 2021; Susilo et al, 2019). Pada pelaksanaan pemilu eksekutif, media justru ‘merayakan’ skrip tentang subordinasi kepemimpinan perempuan demi melanggengkan kekuasaan patriarki lewat penegasan terhadap peran gender tradisional (di Meco, 2019; Dayan & Katz, 1994).
Kerangka konseptual tentang kekerasan simbolik yang dikembangkan oleh Perse menawarkan dua jenis strategi perlawanan bagi politisi perempuan untuk dapat mengganggu dan menggoyahkan desain dasar (template) pemberitaan di media yang telah terhegemoni idealisme patriarki.
Pertama, penerapan strategi jangka pendek dengan menerapkan rute periferal dan skema personal. Politisi perempuan menyasarkan target pemilih non-elit yang kurang terlibat secara politik dan cenderung membentuk opini politik yang dangkal. Untuk menargetkan pemilih non-elit ini, Perse mengadopsi pemikiran Cacioppo & Petty (1986) tentang rute periferal dalam Elaboration Likelihood Model (ELM). Perse juga menggunakan skema personal yang diadopsi dari model Kognitif-Transaksional hasil pemikiran Lazarus & Folkman (1984).
Strategi ini menjelaskan, bahwa kelompok non-elit yang dipersuasi lewat jalur periferal dapat lebih responsif menerima kisah-kisah emosional (Gerbaudo et al, 2019; Perse, 2008). Perjuangan para perempuan di ranah domestik seringkali mengandung narasi emosional (Malinowski dalam Rose, 1962) yang tepat untuk menjadi mitos tandingan dengan tujuan persuasi rute periferal.
Narasi tentang tugas-tugas rumah tangga tidak membutuhkan argumen atau analisis politik mendalam. Justru narasi tandingan tentang pengerjaan tugas-tugas rumah tangga oleh politisi perempuan memiliki sifat yang emosional dan sentimental sehingga menjadi daya tarik dan menciptakan ‘kredibilitas’ narasinya tersendiri (Dewi et al, 2017; Deason, 2015). Visualisasi citra politisi perempuan ketika menampilkan tugas-tugas domestiknya dapat memberikan isyarat emosional yang kuat pada konten kampanye sebagai simbol kepemimpinan baru yang langsung terkait dengan kehidupan sehari-hari dalam ruang paling intim dan personal individu (rumah) (Aarseth, 2021). Aspek emosional yang ditampilkan politisi perempuan ini menjadi simbol di mana kalangan non-elit bisa mengidentifikasi diri mereka dengan si politisi perempuan yang ternyata tidak memiliki perbedaan (Sari, 2025).
Penggunaan rute periferal dalam skema personal ini diharapkan dapat mengaktifkan skema positif pemilih secara tidak sadar dalam membentuk opini semu yang berujung pada niat memilih politisi perempuan sebagai pemimpin dalam pemilu eksekutif. Meskipun strategi jangka pendek bersifat sementara, strategi ini tetap memiliki dampak nyata dalam membentuk kesan awal terhadap citra politisi perempuan dan keputusan memilih yang cepat (Mo, 2015).
Strategi kedua yang dapat dilakukan oleh politisi perempuan dalam melawan hegemoni patriarki yang sudah mengakar dalam struktur politik adalah dengan menargetkan perubahan sikap dan persepsi yang lebih dalam serta berkelanjutan. Perse mengadopsi pemikiran Gerbner et al (1994) tentang kultivasi media sebagai upaya paparan media yang berulang dan konsisten terhadap citra tertentu agar dapat mengubah pandangan audiens sehingga mereka menerjemahkan realitas media sebagai realitas sosial.
Media selama ini meneguhkan stereotip gender yang membatasi peran perempuan hanya dalam ruang domestik, dan ruang tersebut dimarjinalkan sehingga perempuan tidak disertakan keterlibatannya di ranah politik dan publik (Heriyanto, 2023; Nash, 2009; Kittilson & Fridkin, 2008). Paparan berulang narasi ini memperkuat pandangan seksis dan patriarkal. Oleh karenanya, strategi jangka panjang ini menuntut reproduksi mitos tandingan yang konsisten di berbagai medium dan genre, termasuk program hiburan dan drama, untuk meredefinisi peran domestik perempuan sebagai pencapaian positif.
Strategi kultivasi yang konsisten dan berulang dapat merekonstruksi keyakinan dominan yang patriarkis untuk meruntuhkan stereotip seksis yang menjadi fondasi kekuasaan patriarkal. Pengulangan konten positif berulang kali juga semakin menguatkan aktivasi skema personal positif menjadi permanen dalam memori jangka panjang (Perse, 2008; Gerbner et al, 1994).
Integrasi model ELM, Kognitif-Transaksional, dan Kultivasi mampu menjadi kerangka konseptual yang dapat mengakomodasi persuasi kepada kalangan non-elit dengan lebih cepat, serta membentuk kesan personal untuk mengupayakan perubahan struktur kognitif dalam melawan hegemoni patriarki. Integrasi model ini tidak hanya efektif untuk meraih kemenangan elektoral dalam jangka pendek, melainkan juga berpotensi sebagai transformasi soial yang berkesinambungan untuk merekonstruksi narasi sosial yang dominan di media.
Melalui penerapan strategi ini, politisi perempuan dapat melawan kekerasan simbolik patriarki yang tersebar di media lewat pendekatan emosional dan kognitif pada tingkat mikro dan makro, mulai dari membentuk kesan personal terhadap pemilih secara individual, hingga merevolusi realitas sosial. Mitos tandingan tentang pencapaian domestik tak hanya berperan sebagai sekedar simbol, melainkan alat perubahan sosial yang dapat menggoyahkan dan menggeser hegemoni bias gender dalam pemberitaan politik di media. Pengulangan narasi mitos tandingan secara konsisten akan terus memantik dan mengaktifkan skema personal positif dalam pikiran pemilih sehingga skema tersebut menjadi mudah diakses kembali.
Dengan memadukan strategi jangka panjang dan pendek, reproduksi mitos tandingan tentang pencapaian domestik mampu menciptakan dampak media yang berkelanjutan pada level opini pemilih (individu) maupun pada konstruksi sosial.Pengalaman domestik perempuan hadir dalam bentuk isyarat perifer yang kuat dan emosional untuk membangun kesan yang mendalam, dan kemudian diperkuat oleh paparan media yang berkelanjutan untuk merekonstruksi keyakinan dominan yang sudah tertanam. Dengan demikian, penerapan strategi ini dapat mendekomposisi narasi gender yang penuh kekerasan simbolik menjadi lebih progresif dan berpihak pada politisi perempuan.
Politisi perempuan pada akhirnya dapat memanfaatkan media tidak hanya sebagai arena pertarungan politik, tetapi juga sebagai sumber kekuatan (modal) politik untuk melemahkan hegemoni patriarki dengan mendukung kesetaraan gender serta representasi perempuan dalam ruang publik dan kekuasaan.
Rumusan Masalah
- Bagaimana struktur narasi mitos tandingan tentang pencapaian domestik yang efektif dalam rute periferal agar dapat mempengaruhi opini pemilih non-elit dalam pemilu eksekutif?
- Bagaimana membangun dan mengaktivasi skema personal melalui isyarat visual dan narasi mitos tandingan pencapaian domestik agar mampu memengaruhi pembentukan opini dan niat memilih?
- Bagaimana menerapkan strategi kultivasi agar media secara konsisten terus memaparkan mitos tandingan pencapaian domestik untuk melemahkan hegemoni patriarki?
- Bagaimana mengintegrasikan strategi jangka pendek (rute periferal dan skema personal) dan jangka panjang (kultivasi media) agar mampu berkontribusi dalam melawan kekerasan simbolik patriarki dalam pemilu eksekutif?
Referensi
Aarseth, H. (2021). Against the grain? The craving for domestic femininity in a gender-egalitarian welfare state. European Journal of Women’s Studies, Vol. 28(2).
Akalili, A., & Sari, I.O. (2019). Women and gender stereotyping in media from the point of view of structuration theory. Journal of Social Studies, Vol.17, No.2.
Deason, G., Greenlee, J.S., & Langer, C.A. (2015). Mothers on the campaign trail: Implications of politicized motherhood on women in politics. Politics, Groups, and Identities, 3(1).
Dewi, K.H., Latifa, A., Subono, N.I., Prasetyawan, W., & Prasojo, A.P.S. (2023). “Dia Dikader”: Women’s NGOs roles, networks, and the agency of women’s legislative candidates in West Sumatra. Asian Journal of Women’s Studies, 29:4.
di Meco, L. (2019). #SHEPERSISTED: Women, Politics & Power in the New Media World. Global Fellow: The Wilson Center.
Han, L.C., & Heldman, C. (2007). Rethinking Madam President: Are We Ready for a Woman in the White House. Colorado: Lynne Rienner Publishers.
Heriyanto. (2023). Patriarchal Culture, Theology and State Hegemony in Issues of Gender Equality in Indonesian Politics. Proceedings of the International Conference Social – Humanities in Maritime and Border Area.
Kittilson, M.C., & Fridkin, K. (2008). Gender, Candidate Portrayals and Election Campaigns: A Comparative Perspective. Politics & Gender 4(3).
Mo, C.H. (2015). The Consequences of Explicit & Implicit Gender Attitudes and Candidate Quality in the Calculation of Voters. Political Behavior, 37.
Nash, C.J. (2009). Patriarchy. International Encyclopedia of Human Geography. Elsevier.
Perse, E.M. (2008). Media Effects and Society. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers.
Rose, A.M. (1962). Human Behavior and Social Process: An Interactionist Approach. Massachusetts: The Riverside Press.
Susilo, D., Sugiharti, R., & Arimbi, D.A. (2019). Indonesian Women in Politics: Critical Analysis of Portrayal in Online News Sites. Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 16, Nomor 2.
van Dijk, R.E., & van Holsteyn, J. (2022). Fit for Office? The Perception of Female and Male Politicians by Dutch Voters. Politics of the Low Countries, (4)1.




Tinggalkan komentar