Penelitian ini ingin melihat bagaimana politisi perempuan menerapkan strategi reproduksi mitos tandingan tentang pencapaian domestik dalam melawan hegemoni patriarki pada pemilu eksekutif. Sebagai suatu struktur dominan dalam politik, patriarki telah menjadi suatu narasi besar (metanarasi) yang menempatkan laki-laki di pusat kekuasaan (Crow & Wolton, 2020; Connell, 2009). Metanarasi patriarki ini juga telah mengerdilkan posisi dan kontribusi perempuan dengan menempatkannya di ruang domestik yang dipandang rendah dan tidak relevan dalam kompetisi politik (Barnes & O’Brien, 2025).
Oleh karena itu, penelitian ini akan berpijak pada gagasan postmodernitas yang ditawarkan oleh James McGuigan (2006) untuk menjelaskan bagaimana reproduksi mitos pencapaian domestik diverifikasi menjadi alat strategis yang dapat membongkar dominasi patriarki dalam pemilu eksekutif.
Dalam masyarakat kontemporer yang diwarnai keragaman identitas dan fragmentasi makna, konsep postmodern McGuigan melihat perubahan sosial budaya di mana narasi besar yang mengklaim kebenaran universal mulai kehilangan legitimasi. Narasi ini digantikan oleh narasi-narasi kecil (narasi mini) yang lebih kontekstual, beragam, dan terbuka untuk negosiasi. Konsep narasi mini ini diangkat dan diperluas dari pemikiran Jean-Francois Lyotard (1984) yang melihat penurunan kepercayaan terhadap metanarasi sebagai ciri utama postmodernitas. Dengan demikian, ruang diskursus publik menjadi terbuka lebih luas bagi narasi minoritas dan lokal, termasuk pengalaman dan suara politisi perempuan.
Kondisi postmodern dalam pemikiran McGuigan dan Lyotard telah memungkinkan narasi-narasi kecil untuk tampil sebagai tandingan yang menantang dan mendestabilisasi narasi besar. Paradigma postmodern mengakomodasi narasi mini agar lebih mampu merefleksikan realitas yang beragam dan inklusif dibanding narasi besar yang seragam dan sentralistik. Sebab narasi mini hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual, situasional, lokal, dan terbuka ketika menghadirkan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang termarjinalkan dalam masyarakat (McGuigan, 2006; Lyotard, 1984).
Pada konteks penelitian ini, pengalaman domestik dan pencapaian perempuan yang sebelumnya dinilai subordinat dan tidak relevan justru diangkat menjadi perlawanan yang otentik dan strategis untuk melawan metanarasi patriarki (Pillado, 2023). Selama ini, narasi besar patriarki dikonstruksikan sebagai kebenaran tunggal tentang politik yang menegaskan otoritas dan kekuasaan laki-laki dengan struktur dan norma yang ‘dipaksakan’ untuk berlaku secara universal (van Dijk & van Holsteyn, 2022). Ranah domestik dalam metanarasi patriarki diposisikan sebagai sesuatu yang inferior agar tidak dapat diakui sebagai modal kepemimpinan (Surya, 2024; Suciati & Ambarini, 2018). Akibatnya, politisi perempuan yang mencoba meraih posisi eksekutif harus terus berhadapan dengan stigma, stereotip dan bias gender (Mo, 2015) yang menghambat mereka secara struktural dan psikologis (Alieva, 2025; Eswaran et al, 2024).
Melalui semangat postmodern McGuigan dan elaborasi penurunan metanarasi Lyotard, strategi narasi domestik diubah menjadi narasi alternatif yang menawarkan emansipasi baru dalam diskursus publik. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap kebenaran tunggal narasi besar patriarki menjadikan narasi pencapaian domestik politisi perempuan lebih mudah diterima dan difungsikan sebagai identitas serta modal kekuatan politik baru (Cameron & Shaw, 2017; MacLure, 2010).
Strategi reproduksi mitos ini berperan sebagai narasi tandingan yang membongkar stereotip, stigma, dan struktur subordinasi yang selama ini kerap merendahkan eksistensi politisi perempuan dalam pemilu eksekutif (Lyytikäinen et al, 2021). Maka dari itu, pendekatan postmodern memungkinkan politisi perempuan untuk membangun ruang diskursus baru yang tidak terikat pada logika-logika dalam metanarasi patriarki. Identitas politik menjadi cair dan dapat dinegosiasikan. Dampak dari penerapan strategi reproduksi narasi ini mampu mendukung adanya mobilisasi simpati, suara, dan dukungan publik yang lebih luas kepada politisi perempuan, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya sangat kental dengan unsur patriarki (Marwah et al, 2024; Dewi et al, 2017).
Mereproduksi mitos tandingan tentang pencapaian domestik sebagai strategi narasi yang mengintegrasikan kerangka pemikiran McGuigan dan Lyotard mampu menegaskan posisi narasi domestik yang tidak lagi terbelenggu dalam domain subordinat (Aarseth, 2021). Keberhasilan domestik akan menjadi fondasi dari transformasi politisi perempuan yang lebih demokratis, inklusif, dan adaptif terhadap dinamika masyarakat kontemporer.
Referensi
Aarseth, H. (2021). Against the grain? The craving for domestic femininity in a gender-egalitarian welfare state. European Journal of Women’s Studies, Vol. 28(2).
Alieva, K. (2025). Revealing the Barriers to Women’s Political Participation in Uzbekistan. Al-Ahwal, Volume 18, Issue 1.
Barnes, T.D., & O’Brien, D.Z. (2025). Gender and Leadership in Executive Branch Politics. Annual Review of Political Science.
Cameron, D., & Shaw, S. (2017). Gender, Power, and Political Speech: Women and Language in the 2015 UK General Election. The Palgrave Macmillan.
Connell, R. (2009). Gender In World Perspective. Second Edition. Cambridge: Polity Press.
Crow, D., & Wolton, L. (2020). Taking Policy in Congressional Campaigns: Construction of Policy Narratives in Electoral Politics. Politics Policy, 48.
Eswaran, U., Eswaran, V., Murali, K., & Eswaran, V. (2024). Barriers and challenges: Examining systemic barriers Impeding women’s advancement in leadership positions. Empowering and Advancing Women Leaders and Entrepreneurs.
MacLure, M. (2010). The offence of theory. Journal of Education Policy, Volume 25, Issue 2.
Marwah, S., Pratiwi, O.C., & Ramadhanti, W. (2024). Enhancement of Women’s Representation and Evolving Political Myths on the North Coast of Java. Interdisciplinary Political Studies, Number 10, Issue 1.
Mo, C.H. (2015). The Consequences of Explicit & Implicit Gender Attitudes and Candidate Quality in the Calculation of Voters. Political Behavior, 37.
Pillado, K.A. (2023). Patriarchy and Women’s Struggle in Selected Boom and Post-Boom Novels. Journal of Language and Literacy, Vol.23, No.2.
Sapkota, M., & Dahal, K. (2022). Gender and Politics: A Feminist Critique of the State. Journal of Political Science, Volume 22.
Suciati, S., & Ambarini, R. (2018). A Rethorical Analysis of Selected Speeches of Indonesian Woman Politicians: Pre-Electoral Strategies. Advanced Science Letters, Volume 24, Number 6.
Surya, Y.W.I. (2024). Gender identity, everyday politics, and social media: Indonesian female millenials’ social media activism. Plaridel Journal of Communication, Media, and Society.
van Dijk, R.E., & van Holsteyn. (2022). Fit for Office? The Perception of Female and Male Politicians by Dutch Voters. Politics of the Low Countries (4)1.




Tinggalkan komentar