Penafian: Penulis menggunakan kecerdasan buatan Perplexity, Notebook LM, dan Scopus AI sebagai platform diskusi dan elaborasi konsep mitos dalam perspektif Baudrillard dan Castells.
Penelitian ini ingin mengobservasi strategi pemimpin perempuan dalam mereproduksi mitos tandingan tentang pencapaian domestik untuk melawan hegemoni patriarki dalam pemilu eksekutif. Strategi ini hendak dibaca sebagai respon terhadap dinamika kekuasaan, identitas, dan representasi dalam masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh perubahan struktur sosial dan teknologi komunikasi. Oleh karenanya, penelitian ini hendak menggabungkan kerangka pemikiran yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard (1994) dan Manuel Castells (2010) yang menawarkan pemahaman tentang peran mitos dan representasi dalam masyarakat modern dan jaringan.
Konsep simulacra dan simulasi yang digagas oleh Baudrillard tentang masyarakat modern menyebutkan tentang konstruksi tanda dan representasi yang tidak lagi hanya mencerminkan realitas, namun telah menggantikan dan menciptakan realitas baru yang disebut realitas hiper. Representasi atau citra yang ada tidak lagi memiliki referensi asli sebab realitas asli tersebut telah menghilang.
Dalam kerangka pemikiran Baudrillard yang ingin diteliti, mitos tandingan yang direproduksi politisi perempuan tentang pencapaian domestik bertindak sebagai realitas baru yang membentuk dan menggeser persepsi publik tentang kepemimpinan perempuan. Mitos tentang pencapaian domestik dibentuk agar menjadi legitimasi politik politisi perempuan ketika memindahkan ranah domestik yang kerap diremehkan dalam struktur patriarki (Aarseth, 2021) menjadi sumber kekuatan dan modal politik politisi perempuan yang diakui dalam masyarakat kontemporer (Khoban, 2023).
Di sisi lain, perubahan struktur masyarakat yang dikaji oleh Castells menawarkan kerangka untuk memahami bagaimana kemunculan masyarakat jaringan memungkinkan perkembangan reproduksi mitos tandingan yang menjadi strategi politisi perempuan. Castells mengungkapkan, masyarakat kontemporer kini semakin berorientasi pada jaringan global yang terfragmentasi. Dengan demikian, identitas sosial dan makna kolektif tidak lagi sepenuhnya mengakar pada komunitas fisik dan lokal, melainkan ditentukan oleh dinamika jaringan dan interaksi maya yang bergerak secara lintas batas dan cair.
Pada masyarakat jaringan Castells, identitas tidak lagi ditentukan secara kaku oleh tradisi, lokasi, atau komunitas fisik. Identitas lahir dan berkembang dari proses konstruksi makna di ruang virtual dan sirkulasi pesan-pesan lewat jejaring global. Oleh karenanya, individu dan kelompok dalam masyarakat jejaring dapat menciptakan, membentuk, dan menegosiasikan identitas kolektif berdasarkan nilai dan simbol yang relevan bagi perjuangan sosial mereka.
Ketika mitos tandingan tentang pencapaian domestik didistribusikan melalui media jaringan, mitos tersebut tidak hanya tampil sebagai bentuk perjuangan legitimasi politik perempuan. Mitos tandingan tersebut juga menawarkan basis solidaritas dan identitas kolektif baru yang hendak menegaskan bahwa peran domestik perempuan memiliki signifikansi yang sama dengan peran sosial di ranah publik (Lyytikäinen et al, 2021). Mitos domestik ini direkonstruksi dan dinegosiasikan kembali di antara masyarakat jaringan untuk meredefinisi kekuasaan politik perempuan di ranah publik.
Pengintegrasian pemikiran Baudrillard dan Castells dalam penelitian ini ingin mengelaborasi strategi politisi perempuan dalam membangun mitos tandingan pencapaian domestik yang bertumpu pada dua kekuatan. Pertama, konstruksi realitas hiper sebagai teknik mengubah representasi domestik menjadi simulasi kekuatan sosial-politik yang diakui dan diterima secara luas (Baudrillard, 1994). Kedua, memanfaatkan logika masyarakat jaringan sebagai ruang yang memungkinkan narasi realitas hiper tentang mitos pencapaian domestik tersebut membentuk dan memperkuat identitas kolektif perempuan melalui proses partisipasi dan interaksi simbolik di antara masyarakat jaringan (Castells, 2010; Baudrillard, 1994).
Sinergi antara simulasi realitas hiper pada masyarakat jaringan akan menciptakan arena politik baru bagi politisi perempuan untuk mengartikulasikan peran dan identitas mereka pada pemilu eksekutif (Moser, 2022). Sebab, strategi reproduksi mitos tandingan dengan memanfaatkan realitas hiper dalam masyarakat jaringan tidak harus bergantung pada bukti objektif untuk diakui sebagai kebenaran. Justru kekuatan mitos tandingan dalam masyarakat jaringan terletak pada fungsi retorik dan simboliknya yang mampu memproduksi realitas kepemimpinan yang baru (Moser, 2024).
Mitos tandingan juga dapat merespon kebutuhan dalam masyarakat jaringan yang mengalami keterpisahan dan fragmentasi sosial akibat hilangnya mitos komunitas tradisional (Castells, 2010). Dengan mengintegrasikan pencapaian domestik sebagai sumber kekuatan politik, politisi perempuan menawarkan narasi yang membangun sebuah solidaritas baru, meneguhkan posisi perempuan dalam relasi kekuasaan, serta menghadirkan kemungkinan redistribusi legitimasi politik di arena pemilu eksekutif (Igwebuike & Chimuanya, 2024;).
Proses reproduksi mitos tandingan ini juga menunjukkan adanya kompleksitas interaksi antara realitas dan simulasi dalam politik. Pencapaian domestik tidak lagi sekedar domain privat atau non-politik (Pillado, 2023). Ranah domestik direpresentasikan sebagai sumber kredibilitas, kekuatan, dan pengaruh politisi perempuan di ruang publik (Aarseth, 2021). Maka dari itu, narasi mitos tandingan tentang pencapaian domestik akan dipandang dan dilegitimasi sebagai model baru dalam strategi politik politisi perempuan.
Untuk menerapkan penelitian yang menyintesa pemikiran Baudrillard dan Castells, maka pertanyaan penelitian yang disusun adalah sebagai berikut:
- Bagaimana mengomposisikan struktur narasi tentang pencapaian domestik yang sesuai dengan konsep simulacra dan simulasi Baudrillard agar dapat membentuk realitas hiper tentang konsep kepemimpinan perempuan yang baru?
- Bagaimana politisi perempuan menerapkan strategi pembangunan mitos tandingan tentang pencapaian domestik yang nantinya mampu menggalang solidaritas dan membentuk identitas kolektif baru dalam masyarakat jaringan sehingga mampu melawan hegemoni patriarki dalam pemilu eksekutif?
- Sejauh mana kekuatan mitos tandingan tentang pencapaian domestik dapat menggeser dan meredefinisi narasi hegemoni patriarki dalam arena pemilu eksekutif?
Referensi
Aarseth, H. (2021). Against the grain? The craving for domestic femininity in a gender-egalitarian welfare state. European Journal of Women’s Studies, Vol. 28(2).
Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. United States of America: The University of Michigan Press.
Castells, M. (2010). The Rise of Network Society, 2nd Edition. West Sussex: Blackwell Publishing Ltd.
Igwebuike, E.E., & Chimuanya, L. (2024). Self-promotion, ideology and power in the social media posts of Nigerian Female Political Leaders. Journal of Language and Politics, Volume 23, Issue 1.
Khoban, Z. (2023). Politics of Emancipation: A Feminist Defense of Randomly Selected Political Representatives. Critical Policy Studies, Vol.17, No.4.
Lyytikäinen, M., Yadav, P., Wibben, A.T.R., Jauhola, M., & Confortini, C.C. (2021). Unruly wives in the household: Toward feminist genealogies for peace research. Cooperation and Conflict, Volume 56(1).
Moser, K. (2022). The Philosophy of Jean Baudrillard: A Counter-Hegemonic Tool for Deconstructing Male and Female Archetypes in (Post-) Modern Consumer Republics? Issues in Business Ethics, Volume 53.
Pillado, K.A. (2023). Patriarchy and Women’s Struggle in Selected Boom and Post-Boom Novels. Journal of Language and Literacy, Vol.23, No.2.




Tinggalkan komentar