Penelitian ini ingin menyoroti strategi politisi perempuan dalam pemilu eksekutif yang membangun mitos tandingan lewat pencapaian domestik – sebagai istri dan ibu – sebagai narasi disruptif terhadap tatanan patriarki. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berpijak pada kerangka pemikiran Judith Butler tentang subversivitas performatif gender yang dirumuskan dalam Gender Trouble (1990) dan Undoing Gender (2004).
Butler memandang gender sebagai sesuatu yang performatif, yakni suatu rangkaian pengulangan terus-menerus dalam segala bentuk tindakan, gerak tubuh, dan gaya tubuh pada bentuk yang terlihat kaku. Pengulangan aksi ini akhirnya membentuk suatu ilusi “kebenaran” yang tampak alamiah dan koheren demi memenuhi ekspektasi sosial. Penempatan perempuan dalam ranah domestik dianggap sebagai sebuah performativitas gender yang wajar dan alamiah.
Padahal penempatan tersebut merupakan konstruksi sosial patriarki yang diulang agar tampak normal dan natural. Penempatan perempuan di ruang domestik adalah bentuk performativitas yang pura-pura bertindak sebagai suatu subjek yang stabil, walaupun sebenarnya tindakan tersebut adalah sesuatu yang diproduksi, dipaksakan, dan diatur sedemikian rupa dalam bentuk-bentuk regulasi agar terlihat natural.
Dalam norma patriarki, peran domestik perempuan dianggap inferior dibandingkan peran laki-laki di ranah publik. Dengan demikian, tugas-tugas domestik perempuan sebagai ibu dan istri dipandang sepele dan rendah. Namun ketika politisi perempuan menampilkan keberhasilan domestik – seperti kemampuan manajerial mengurus rumah tangga – menjadi bagian dari narasi utama dalam kampanye pemilu eksektuif, maka politisi perempuan tengah melakukan aksi subversif performatif yang mengganggu tatanan patriarki. Narasi pencapaian domestik membalik nilai simbolik peran perempuan dalam ranah domestik yang selama ini dianggap marjinal menjadi bentuk kepemimpinan dan otoritas politik.
Menjadikan pencapaian domestik sebagai narasi mitos tandingan dalam melawan hegemoni patriarki sejalan dengan pemikiran Butler tentang potensi subversif perfomativitas gender. Ketika politisi perempuan secara sadar dan strategis mengeklaim keberhasilan domestik dalam panggung politik, mereka hendak menggeser dan memaknai ulang kepemimpinan perempuan yang sebelumnya tunduk dalam norma patriarki.
Reproduksi mitos tandingan tentang ibu dan istri tidak hanya menentang stereotipe “perempuan lemah” dan “tidak layak memimpin” (Heriyanto, 2023; Nash, 2009; Kittilson & Fridkin, 2008). Dengan menajamkan narasi pencapaian domestik melalui aksi performatif di ruang publik, politisi perempuan mendorong redefinisi nilai-nilai kepemimpinan berbasis empati, pengayoman, multitugas, hingga resiliensi yang seluruhnya merupakan kualitas feminin yang selama ini direndahkan dalam hegemoni patriarki (Dewi et al, 2023).
Pendekatan subversivitas performatif gender Butler dalam menjadikan pencapaian domestik sebagai narasi disruptif dapat memberikan potensi dekonstruktif dan transformatif bagi struktur gender dominan. Narasi keberhasilan domestik politisi perempuan menjadi strategi performatif perempuan yang justru menumbuhkan superioritas domestik. Sehingga dapat menampilkan performa kepemimpinan baru yang dapat menantang dan melampaui tatanan hegemoni patriarki.
Untuk tujuan penelitian tersebut, maka pertanyaan penelitian yang hendak dijawab adalah sebagai berikut:
- Bagaimana politisi perempuan membangun dan menampilkan narasi pencapaian domestik sebagai ibu dan istri dalam kampanye pemilu eksekutif?
- Bagaimana narasi pencapaian domestik dapat berfungsi sebagai mitos tandingan terhadap norma patriarki yang selama ini merendahkan peran domestik perempuan?
- Dalam konteks performativitas gender Butler yang subversif, sejauh mana narasi domestik yang digunakan politisi perempuan dapat dikategorikan sebagai aksi disruptif dan mampu menggeser konstruksi patriarki di ranah politik?
- Sampai sejauh apa strategi performatif ini dapat mentransformasi narasi kepemimpinan dan mengubah ekspektasi terhadap posisi perempuan dalam struktur politik yang patriarkis?
Referensi
Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge.
Butler, J. (2004). Undoing Gender. New York: Routledge.
Dewi, K.H., Latifa, A., Subono, N.I., Prasetyawan, W., & Prasojo, A.P.S. (2023). “Dia Dikader”: Women’s NGOs roles, networks, and the agency of women’s legislative candidates in West Sumatra. Asian Journal of Women’s Studies, 29:4.
Heriyanto. (2023). Patriarchal Culture, Theology and State Hegemony in Issues of Gender Equality in Indonesian Politics. Proceedings of the International Conference Social – Humanities in Maritime and Border Area.
Kittilson, M.C., & Fridkin, K. (2008). Gender, Candidate Portrayals and Election Campaigns: A Comparative Perspective. Politics & Gender 4(3).
Nash, C.J. (2009). Patriarchy. International Encyclopedia of Human Geography. Elsevier.




Tinggalkan komentar