Strategi Politisi Perempuan Dalam Memproduksi Mitos Tandingan Untuk Melawan Hegemoni Patriarki: Sebuah Pendekatan Interaksionis

Penelitian ini hendak melihat bagaimana politisi perempuan menerapkan strategi perlawanan terhadap hegemoni patriarki pada pemilu eksekutif. Strategi perlawanan yang hendak diobservasi adalah cara politisi perempuan mengolah gagasan, konsep, isu, dan istilah feminitas di ranah domestik yang selama ini direndahkan dalam hegemoni patriarki menjadi mitos tandingan untuk membentuk ideologi politik yang baru.

Oleh karenanya, penelitian ini ingin menggunakan pendekatan interaksionis Rose (1962) yang bersumber dari tradisi interaksi simbolik gagasan Mead (1934) dan Blumer (1937, 1969). Gagasan dalam pendekatan interaksionis mengungkapkan, produksi identitas, makna sosial, hingga simbol-simbol yang dapat membentuk suatu mitos tertentu terbentuk melalui interaksi, komunikasi, dan validasi bersama suatu kelompok masyarakat.

Mitos patriarki yang terbentuk dari proses interaksionis ini kerap merendahkan sifat-sifat feminin dan tugas domestik seorang ibu dan istri yang dibatasi pada mengurus rumah tangga (Kittilson & Fridkin, 2008). Dampak yang muncul sebagai akibat dari keyakinan ini adalah dengan dimarjinalkannya perempuan dalam ranah politik dan publik karena perempuan dianggap tidak layak untuk menjalankan tugas kepemimpinan (Heriyanto, 2023; Nash, 2009).

Dengan pendekatan interaksionis, politisi perempuan meredefinisikan makna sosial dan simbol-simbol feminin menjadi sebuah simbol kepemimpinan baru untuk melawan hegemoni patriarki. Kualitas-kualitas feminin yang selama ini diasosiakan kepada perempuan seperti empati, kepedulian, dan sifat pengayom (Dewi et al, 2023) direkonstruksi sebagai definisi kepemimpinan yang baru. 

Proses rekonstruksi definisi kepemimpinan feminin ini terus diulang dan dinegosiasikan kepada publik dalam proses interaksi simbolik yang ditampilkan dalam bentuk gestur, bahasa, dan penampilan. Sehingga simbol-simbol baru tentang kepemimpinan feminin ini akhirnya divalidasi sebagai suatu nilai kolektif yang dapat diterima bersama.

Agar simbol-simbol feminin dapat diterima secara kolektif sebagai nilai kepemimpinan yang baru, politisi perempuan perlu mereproduksi mitos tandingan yang mampu mempengaruhi penerimaan publik terhadap kepemimpinan perempuan. 

Malinowski dalam Rose (hal.386) mengungkapkan, mitos yang mendapatkan legitimasi dan pembenaran dalam tatanan sosial adalah narasi yang mampu menyentuh emosi terdalam manusia seperti menyinggung tentang rasa takut, harapan, hasrat, hingga sentimen. Ketika mitos telah mendapatkan pengakuan emosional dari masyarakat, kelompok yang memproduksi mitos tersebut dapat mempertahankan dominasinya dalam mengontrol dan mengendalikan perilaku masyarakat. Mitos pun berubah menjadi sebuah ideologi yang membenarkan suatu kekuasaan.

Namun menurut Burgess (1962), mitos tidak selalu bertahan selamanya sebab sistem sosial selalu berubah dan mengalami disorganisasi atau tekanan. Akibatnya, mitos dapat digugat dan tatanan lama dapat runtuh untuk melahirkan sebuah mitos baru. Lewat penceritaan, penampilan simbol-simbol feminin, mitos patriarki dapat digugat untuk memunculkan mitos tandingan kepemimpinan perempuan.

Strategi politisi perempuan yang ingin diobservasi dalam penelitian ini adalah dengan melihat bagaimana para politisi perempuan mengglorifikasi narasi pencapaian domestik politisi perempuan lewat keberhasilannya dalam mengurus rumah tangga. Merekonstruksi makna dengan menampilkan perjuangan politisi perempuan menjadi ibu yang bersusah payah melahirkan, mengurus anak, mendidik, hingga menyekolahkan anak-anaknya (Deason et al, 2015) bisa dimaknai sebagai simbol baru tentang seorang pemimpin yang kuat, tangguh, dan tidak pernah mengeluh dalam situasi sesulit apapun. Perempuan  yang mengurus rumah tangga memiliki kepribadian dan kemampuan manajerial yang mumpuni, sehingga mampu memimpin dan mengelola negara.

Perjuangan dan kesusahan sebagai seorang ibu rumah tangga menjadi sebuah narasi yang menyentuh emosi masyarakat yang dalam pandangan Malinowski dapat memiliki legitimasi emosional dan pembenaran terhadap kualitas perempuan. Mitos lama yang memandang ibu sebagai sosok yang lemah dapat digoyahkan dan membentuk makna baru tentang ketangguhan seorang perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dalam menghadapi persoalan dan krisis. Sebab perempuan ibu dan istri telah memiliki pengalaman manajemen krisis dalam mengelola organisasi, yakni rumah tangga.

Glorifikasi keberhasilan domestik dan menampilkan simbol-simbol feminin menjadi simbol baru kepemimpinan adalah strategi yang bisa diterapkan politisi perempuan pada kampanye pemilu eksekutif untuk menggugat simbol-simbol patriarki lama yang telah terstruktur sebagai nilai kolektif masyarakat. 

Simbol-simbol feminin dan domestik yang terus disampaikan secara konsisten dan berulang akan memunculkan makna baru yang lebih bermartabat terhadap atribut feminin dan domestik yang selama ini melekat pada perempuan (Mo, 2015). Pemaknaan baru terhadap atribut feminin dan domestik ini akan mendapatkan pengakuan dan legitimasi emosional dari masyarakat yang dimaknai sebagai era kepemimpinan baru.

Dari penjelasan tersebut, maka pertanyaan penelitian yang dapat disusun untuk kepentingan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana strategi politisi perempuan memproduksi simbol-simbol feminin dan istilah dalam ranah domestik sebagai simbol kepemimpinan baru untuk melawan hegemoni patriarki?
  2. Simbol-simbol feminin seperti apa yang dapat diterapkan oleh politisi perempuan sebagai strategi untuk menggugat simbol-simbol patriarki?
  3. Bagaimana cara memproduksi simbol-simbol feminin tersebut agar mendapatkan legitimasi emosional dari masyarakat?
  4. Strategi apa yang dilakukan oleh politisi perempuan dalam mengolah simbol-simbol kepemimpinan feminin tersebut agar mendapatkan validasi masyarakat sebagai sebuah mitos baru yang menandingi mitos patriarki?

Referensi

Burgess, E.W. (1962). Social Probles and Social Processes. Human Behavior and Social Process: An Interactionist Approach. Massachusetts: The Riverside Press.

Deason, G., Greenlee, J.S., & Langer, C.A. (2015). Mothers on the campaign trail: Implications of politicized motherhood on women in politics. Politics, Groups, and Identities, 3(1).

Dewi, K.H., Latifa, A., Subono, N.I., Prasetyawan, W., & Prasojo, A.P.S. (2023). “Dia Dikader”: Women’s NGOs roles, networks, and the agency of women’s legislative candidates in West Sumatra. Asian Journal of Women’s Studies, 29:4

Heriyanto. (2023). Patriarchal Culture, Theology and State Hegemony in Issues of Gender Equality in Indonesian Politics. Proceedings of the International Conference Social – Humanities in Maritime and Border Area.

Kittilson, M.C., & Fridkin, K. (2008). Gender, Candidate Portrayals and Election Campaigns: A Comparative Perspective. Politics & Gender 4(3).

Mo, C.H. (2015). The Consequences of Explicit & Implicit Gender Attitudes and Candidate Quality in the Calculation of Voters. Political Behavior, 37.

Nash, C.J. (2009). Patriarchy. International Encyclopedia of Human Geography. Elsevier.

Rose, A.M. (1962). Human Behavior and Social Process: An Interactionist Approach. Massachusetts: The Riverside Press.

Tinggalkan komentar