Reproduksi Mitos Tandingan Sebagai Strategi Perlawanan Politisi Perempuan Terhadap Hegemoni Patriarki

Penelitian ini ingin mengeksplorasi penciptaan mitos yang akan menjadi strategi perlawanan politisi perempuan dalam pemilu eksekutif untuk melawan hegemoni patriarki yang mengsubordinasikan posisi perempuan sebagai kandidat pemimpin. Mitos tidak dimaknai secara terbatas hanya sebagai cerita tentang para dewi, dongeng khayangan, ataupun cerita supranatural (Frog, 2018). Dalam penelitian ini, mitos adalah proses pemaknaan konsep sosial-budaya yang dikonstruksikan untuk membentuk realitas manusia, dan konsep tersebut juga bermuatan ideologi tertentu (Levi-Strauss, 1962; Barthes, 1957).

Eksplorasi konsep mitos tandingan sebagai strategi perlawanan politisi perempuan dalam menentang hegemoni patriarki ini mencoba menggabungkan gagasan dari Stuart Hall (1997) tentang proses produksi mitos dalam bentuk bahasa dan diskursus, serta pemikiran Dick Hebdige (1979) tentang kelompok subversif yang harus menganggu tatanan hegemoni.

Hall dan Hebdige sama-sama menjelaskan mitos dengan mengadopsi pemikiran Barthes dalam Mythologies. Namun mitos menurut Hall adalah proses pemaknaan simbol yang mengalami interpretasi kultural dari pengaruh sejarah, tradisi masyarakat, dan konteks sosial lewat bahasa dan wacana. Hall juga terpengaruh oleh gagasan Gramsci (1971) tentang hegemoni yang menyebutkan bahwa hegemoni bukanlah sesuatu yang sifatnya permanen. Dengan demikian mitos dapat terus-menerus direproduksi dengan bahasa dan narasi yang berbeda yang disesuaikan dengan perubahan konteks sosial.

Sementara itu, Hebdige menganggap mitos adalah ‘musuh’ yang harus diganggu karena mitos telah menjelma sebagai sebuah ideologi yang dinaturalisasi sebagai akal sehat. Dengan demikian, keberadaan mitos (menjadi hegemoni) tersebut adalah sesuatu yang sah dan natural. Oleh karenanya, kelompok-kelompok subordinat harus mengganggu kestabilan hegemoni ini dengan menciptakan sebuah ‘gaya’ (style) yang subversif.

Penggabungan pemikiran Mill dan Hebdige memberikan strategi penciptaan mitos tantangan bagi politisi perempuan. Mill menawarkan reproduksi mitos lewat pilihan bahasa dan wacana yang dipakai, sementara Hebdige menyediakan ‘gaya’ perlawanan yang dapat dipakai untuk melawan hegemoni patriarki.

Meskipun Hebdige lebih spesifik menyebutkan perlawanan kelompok yang terpinggirkan sebagai subkultur, politisi perempuan bukanlah kelompok yang berada di bawah (sub) budaya dominan. Sebaliknya, politisi perempuan berada di dalam struktur politik dominan dan perlawanan justru dilakukan dari dalam struktur. Namun pada dasarnya, Hebdige tidak menyebutkan bahwa subversivitas hanya milik kelompok subkultur, melainkan hanya sebuah ‘gaya’ untuk mengacaukan dan merusak kestabilan hegemoni. Dengan demikian politisi perempuan dapat disebutkan pula sebagai kelompok subversif.

Strategi penciptaan mitos tandingan dapat dilihat ketika politisi perempuan menampilkan citra dirinya (yang dalam konsep Mill disebut sebagai penanda/signifier) lewat gestur, pidato, ataupun pakaian sebagai sesuatu yang menampilkan kekuatan, kompetensi, dan kapabilitas dalam mengatur, mengelola, dan memimpin (petanda/signified).

Bentuk penanda dan petanda ini lah yang dibuat dalam bentuk narasi yang kacau dan tidak sesuai dalam standar narasi patriarkis. Jika hegemoni patriarki melekatkan sifat-sifat maskulin sebagai standar kepemimpinan, maka mitos baru tentang kepemimpinan yang baru justru adalah dengan menampilkan strategi dalam konsep domestik yang selama ini direndahkan.

Misalnya perempuan berdaster/bergamis warna gonjreng dengan jilbab panjang yang kerap dilekatkan dengan gaya perempuan emak-emak justru malah menjadi pakaian yang dipilih politisi perempuan pada saat berkampanye. Dalam hegemoni patriarki yang kerap menekankan formalitas lewat pakaian resmi seperti menggunakan jas, celana panjang, kemeja, dan berdasi, menggunakan daster dengan warna ‘tabrak lari’ (penanda) menjadi bentuk resistensi politisi perempuan terhadap bentuk tubuh yang harus selalu mengikuti standar dan ekspektasi laki-laki, atau bahkan dimaknai sebagai kepraktisan agar politisi merasa nyaman pada saat bekerja (petanda).

Untuk melihat bagaimana strategi politisi perempuan dalam membuat mitos tandingan yang menjadi bentuk perlawanan hegemoni patriarki pada kampanye pemilu eksekutif, maka pertanyaan penelitian yang diformulasikan demi kepentingan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana politisi perempuan menciptakan strategi untuk merekayasa citra (penanda/signifier) politik yang akan digunakan dalam wacana untuk menciptakan mitos tandingan yang dapat melawan hegemoni patriarki?
  2. Jenis narasi seperti apa yang dapat menjadi mitos tandingan untuk dijadikan perlawanan dalam mengganggu tatanan hegemoni patriarki?
  3. Gaya (style) seperti apa yang dapat menjadi mitos tandingan dan sesuai untuk ditampilkan oleh politisi perempuan untuk merusak keseimbangan hegemoni patriarki?

Referensi

Barthes, R. (1991). Mythologies. New York: The Noonday Press.

Frog. (2018). Myth. Humanities, 7(1).

Gramsci, A. (1975). Prison Notebooks. New York: Columbia University Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SAGE Publications Ltd.

Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.

Levi-Strauss, C. (1966). The Savage Mind. Chicago: The University of Chicago Press.

Tinggalkan komentar