Penafian: Peneliti menggunakan kecerdasan buatan Notebook LM sebagai platform diskusi dan pembuatan tabel komparasi bahan bacaan.
Penelitian ini ingin mengungkapkan bagaimana mekanisme produksi dan pelanggengan wacana patriarki tentang kepemimpinan perempuan dapat direkonstruksi untuk tujuan meningkatkan elektabilitas pemimpin perempuan pada pemilu eksekutif. Oleh karenanya, penelitian ini menegaskan posisi teoretisnya dengan menggunakan pendekatan Ekonomi Politik Kultural (EPK) yang digagas oleh Sum & Jessop (2013) untuk mengupayakan repolitisasi wacana yang telah tersedimentasi dalam kesadaran publik sebagai akibat pembingkaian negatif, sarat bias gender, dan merugikan pemimpin perempuan.
Media kerap menempatkan perempuan dalam bingkai normatif yang meragukan kompetensi, pengalaman, dan kecakapan perempuan di bidang politik sehingga dianggap tidak mampu memimpin (Corbett et al, 2022; di Meco, 2019). Media pun kerap memberikan fokus berlebihan pada penampilan fisik kandidat perempuan hingga melekatkan stereotip negatif seperti “pemimpin lemah” atau “politisi tdak serius” (Kittilson & Fridkin, 2008). Narasi-narasi ini telah mengendap (tersedimentasi) dan mengakar dalam benak pemilih tentang kepemimpinan perempuan.
Kerangka teori EPK merupakan analisis yang tepat untuk tujuan penelitian ini lewat dua konsep yang saling terkait erat, yakni Semiotik (cara manusia menciptakan makna dan cerita tentang dunia) serta Strukturalisasi (cara membangun aturan, institusi, dan struktur kekuasaan di masyarakat). Dalam pendekatan EPK, struktur yang kompleks harus diurai dengan menciptakan makna (semiosis) dan batasan sosial (strukturalisasi).
Narasi yang merugikan kepemimpinan perempuan adalah hasil dari makna dan struktur yang dipengaruhi oleh sistem patriarki. Untuk merekonstruksi narasi politik melalui pendekatan EPK, ada tiga langkah yang harus diterapkan. Pertama, menciptakan variasi narasi baru yang menentang stereotip. Narasi baru ini kemudian diseleksi dengan mencari dukungan kekuatan sosial yang kuat, dan bukan sekedar karena dibangun oleh cerita yang bagus. Terakhir, narasi ini harus dipertahankan (retensi) agar menjadi pemikiran baru.
Dalam kerangka EPK juga menawarkan mode selektivitas yang dapat dipakai oleh pemimpin perempuan dan tim kampanye untuk menyeleksi metode dan isu kepemimpinan yang akan direkonstruksi demi meningkatkan elektabilitas perempuan. Pertama, selektivitas diskursif, di mana kandidat perempuan dan tim kampanye menentang narasi-narasi lama tentang kepemimpinan perempuan yang sangat bias gender. Dalam proses seleksi ini, justru aspek yang ditampilkan adalah dengan menyoroti kompetensi dan kemampuan perempuan dalam berpolitik dan memimpin. Seleksi kedua adalah selektivitas agensi, di mana kandidat perempuan dan tim kampanye merancang strategi narasi baru yang merupakan kontra-hegemoni, dan mengartikulasikan narasi kontra-hegemoni tersebut dalam bentuk hegemoni baru.
Dengan demikian, interaksi dinamis antara semiosis, strukturalisasi, dan selektivitas yang ditawarkan dalam kerangka EPK ini dapat menjadi pemandu bagi kandidat dan tim kampanye dalam merekonstruksi narasi politik di media tentang kepemimpinan perempuan yang nantinya meningkatkan elektabilitas pemimpin perempuan pada pemilu eksekutif.
Referensi
Corbett, C., Voelkel, J.G., Cooper, M., & Willer, R. (2022). Pragmatic bias impedes women’s access to political leadership. PNAS, 119(6).
di Meco, L. (2019). #SHEPERSISTED: Women, Politics & Power in the New Media World. Global Fellow: The Wilson Center.
Kittilson, M.C., & Fridkin, K. (2008). Gender, Candidate Portrayals and Election Campaigns: A Comparative Perspective. Politics & Gender 4(3).
Sum, N., & Jessop, B. (2013). Towards a Cultural Political Economy: Putting Culture in its Place in Political Economy. Cheltenham: Edward Elgar Publishing Limited.
Tabel Komparasi Media industries studies, media production studies oleh David Hesmondhalgh dan Towards a Cultural Political Economy oleh Ngai-Ling Sum dan Bob Jessop
| Aspek Komparasi | Hesmondhalgh | Sum & Jessop |
| Fokus Utama & Orientasi | Fokus pada bagaimana produksi budaya diatur dalam organisasi media modern. Menggunakan perbandingan antara pendekatan Ekonomi Politik dan Sosiologi Organisasi dalam konteks industri media. | Mengembangkan Ekonomi Politik Kultural (EPK) melalui pendekatan trans-disiplin yang bertujuan mengatasi perpecahan antara studi struktural (ekonomi/politik) dan studi kultural (semiosis). Tujuannya adalah menghasilkan analisis integral mengenai interaksi antara aspek semiotik dan struktural kehidupan sosial. |
| Teori | Ekonomi Politik Media dan Sosiologi Organisasi. Kekhawatiran diletakkan pada isu-isu seperti ukuran, kepemilikan, dan internasionalisasi perusahaan media, serta komodifikasi dan subjektivitas di pasar tenaga kerja televisi. | Pendekatan Strategis-Relasional (SR), yang memandang struktur dan agensi (peran aktor) dalam interaksi dialektis, serta berakar pada Realisme Kritis. |
| Kata Kunci | 1. Kreativitas /Komersialisme: Merujuk pada ketegangan antara nilai artistik atau konten kreatif yang diinginkan oleh pekerja media, versus tuntutan bisnis untuk menghasilkan keuntungan dan memastikan produk laku (komersial). 2. Sosiologi Organisasi: Studi yang menganalisis bagaimana perusahaan atau organisasi (termasuk media) disusun dan bagaimana kekuasaan, kontrol, dan otonomi dimainkan di dalamnya. 3. Ekonomi Politik Media: Pendekatan yang menyelidiki bagaimana struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, dan internasionalisasi memengaruhi isi dan distribusi media. 4. Pasar Tenaga Kerja: Konteks sosial dan ekonomi tempat para pekerja media beroperasi, termasuk isu-isu eksploitasi, komodifikasi, dan subjektivitas tenaga kerja. | 1. Semiosis: Cara kita menciptakan makna dan pemahaman tentang dunia di sekitar kita. 2. Strukturalisasi: Cara kita menciptakan struktur dan batasan dalam hubungan sosial. 3. Strategis-Relasional: Metode analisis yang melihat struktur tidak hanya sebagai pembatas tetapi juga sebagai kemungkinan bagi tindakan aktor (agency), dan melihat tindakan aktor selalu terstruktur (dipengaruhi oleh konteks). 4. Dispositives (perangkat): Sebuah perangkat yang terdiri dari elemen-elemen berbeda (wacana, institusi, teknologi) yang muncul sebagai respons terhadap urgensi tertentu untuk membentuk logika strategis dan mengonsolidasikan kekuasaan. 5. Imaginari: Sistem semiotik atau narasi kolektif yang mendalam yang membentuk pengalaman hidup dan harapan agen sosial mengenai dunia nyata. EPK berupaya untuk mendenaturalisasi imajinari ekonomi dan politik. 6. Strukturalis Scylla & Konstruktivis Charybdis: Dua kesalahan teoritis yang dihindari: Scylla adalah jebakan determinisme struktural (terlalu fokus pada ekonomi/struktur hingga mengabaikan peran makna/budaya); Charybdisadalah jebakan konstruktivisme radikal (menganggap semua realitas sosial hanya diciptakan melalui wacana, mengabaikan batasan material/ekonomi). |
| Mekanisme (Khusus EPK) | EPK menganalisis perubahan sosial melalui tiga mekanisme: Variasi (munculnya narasi/gagasan baru, terutama selama krisis), Seleksi (dipilihnya narasi tertentu karena resonansi atau dukungan kekuatan sosial), dan Retensi (pembentukan kembali wacana yang bertahan dan praktik baru yang terlembaga). |




Tinggalkan komentar