Penelitian ini ingin menelaah bagaimana rekonstruksi narasi politik di media tentang kepemimpinan perempuan dapat meningkatkan elektabilitas dan memperbesar penerimaan pemilih terhadap kepemimpinan perempuan. Penelitian ini sejalan dengan kerangka pemikiran Bourdieu (1984) dan Warde (2014) bahwa persepsi politik dapat dibentuk dari interaksi modal simbolik dan praktik keseharian yang termediasi di media. Namun penelitian ini sekaligus mengoreksi pemikiran Bourdieu tentang kekakuan struktur dan kurangnya peran aktif para agen dalam merekonstruksi narasi kepemimpinan perempuan.
Bourdieu menempatkan politik sebagai arena pertarungan modal simbolik yang membutuhkan pengakuan publik agar dapat diterima sebagai pemimpin. Dalam konteks Indonesia yang patriarkis (White et al, 2023; White & Aspinall, 2019) dan sarat dengan tafsir keagamaan yang konservatif (Mahbuba & Rabeya, 2023; Islam, 2022), habitus pemilih cenderung mengasosiasikan kepemimpinan dengan maskulinitas (Fraile & Sanchez-Vitores, 2020; Mo, 2015). Media kerap mereproduksi narasi tentang kualitas feminin yang dimiliki perempuan sebagai seorang istri dan ibu (Dewi, 2017; Sanbomatsu & Dolan, 2016; Huddy & Terkildsen, 1993), sehingga muncul kepercayaan bahwa perempuan tidak cocok menjadi pemimpin (Corbet et al, 2022; Bauer, 2019).
Rekonstruksi narasi media selaras dengan pemikiran Bourdieu yang bertujuan untuk mengubah pendistribusian modal simbolik dalam menerima kepemimpinan perempuan. Namun penelitian ini menolak determinisme Bourdieu yang menekankan reproduksi struktur dan menutup kemungkinan agensi kandidat, jurnalis, dan pemilih. Rekonstruksi narasi politik di media justru menunjukkan bahwa para agen dapat memaksakan sebuah nilai dan pengakuan baru tentang kepemimpinan perempuan.
Praktik yang digagas oleh Warde lebih selaras dengan kepentingan penelitian ini. Elektabilitas dan penerimaan terhadap kepemimpinan perempuan terbentuk dari eksposur berulang di media sehingga dapat membentuk persepsi pemilih bahwa memilih pemimpin perempuan adalah suatu kewajaran. Praktik ini dapat terjadi karena adanya peran aktif para agen dalam mereproduksi, mendistribusi, dan mengonsumsi konten media sehingga tercipta penerimaan terhadap pemimpin perempuan.
Gagasan Warde sejalan dengan penelitian ini sebab para agen juga secara aktif menggunakan beragam infrastruktur dalam menciptakan konten media agar dapat membentuk “selera” dan mengonstruksi habitus baru pemilih dalam memberikan suaranya di pemilu kepada kandidat perempuan.
Rekonstruksi narasi media dalam penelitian ini dengan memadukan kerangka pemikiran Bourdieu (namun menolak prinsip strukturalnya yang kaku) dan Warde menjadikan media sebagai arena konversi modal simbolik dan pembentukan praktik rutin yang baru. Visualisasi positif tentang kandidat perempuan di media, dan disebarkan pula secara lintas platform, dapat menjadi cara untuk mengubah persepsi publik tentang penerimaan mereka terhadap pemimpin perempuan.
Referensi
Bauer, N.M. (2019). Shifting Standards: How Voters Evaluate the Qualifications of Female and Male Candidates. The Journal of Politics, Volume 82, Number 1.
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Massachusetts: Harvard University Press.
Corbett, C., Voelkel, J.G., Cooper, M., & Willer, R. (2022). Pragmatic bias impedes women’s access to political leadership. PNAS, Vol.119, No.6.
Dewi, K.H. (2017). Piety and Sexuality in a Public Sphere: Experiences of Javanese Muslim Women’s Political Leadership. Asian Journal of Women’s Studies, 23:3.
Fraile, M., & Sanchez-Vitores, I. (2020). Tracing the Gender Gap in Political Interest Over the Life Span: A Panel Analysis. Political Psychology, Volume 41, Issue 1.
Huddy, L., & Terkildsen, N. (1993). Gender Stereotypes and Perception of Male and Female Candidates. American Journal of Political Science.
Islam, M.N. (2022). Faithful Participation: The ‘Ulama in Bangladeshi Politics. Politics, Religion & Ideology, 23:2.
Mahbuba, F., & Rabeya, S. (2023). Female Leadership in Muslim Societies: Theological and Socio-Cultural Debates in Contemporary Literature. Australian Journal of Islamic Studies, Volume 8, Issue 2.
Mo, C.H. (2015). The Consequences of Explicit & Implicit Gender Attitudes and Candidate Quality in the Calculation of Voters. Political Behavior, 37.
Sanbomatsu, K., & Dolan, K. (2016). Do Gender Stereotypes Transcend Party? Political Research Quarterly, Volume 62, Number 3.
Warde, A. (2014). After taste: Culture, consumption and theories of practice. Journal of Consumer Culture 0(0).
White, S., & Aspinall, E. (2019). Why does a good woman lose? Barriers to women’s political representation in Indonesia. Research by New Mandala: New Perspectives on Southeast Asia.
White, S., Warburton, E., Pramashavira., Hendrawan, A., & Aspinall, E. (2023). Voting against Women: Political Patriarchy, Islam, and Representation in Indonesia. Politics & Gender.





Tinggalkan komentar