Penafian: Penulis menggunakan kecerdasan buatan Notebook LM sebagai platform diskusi dan ringkasan teori
Penelitian ini ingin menunjukkan bahwa narasi yang menampilkan aspek emosional, yang selama ini lekat dengan perempuan (Huddy & Terkildsen, 1993), justru dapat mempengaruhi perilaku pemilih untuk memilih perempuan sebagai pemimpin eksekutif. Dalam konteks pemilu di Indonesia, perilaku memilih seringkali dipengaruhi oleh faktor psikologis (emosional) (Susanti & Khu, 2025; Lilleker, 2014; Evan, 2004). Sehingga untuk mempengaruhi psikologi pemilih, menampilkan narasi yang emosional tentang pemimpin perempuan menjadi sangat penting untuk meningkatkan peluang keterpilihan mereka.
Argumen penelitian ini sejalan dengan Couldry (2012) yang menyebutkan bahwa media bukan hanya sekedar alat penyampaian pesan, melainkan sebuah kekuatan sosial yang dapat membentuk realitas, memproduksi makna, dan memberikan legitimasi politik melalui dimensi emosional. Dengan menggunakan pendekatan Couldry, penelitian ini ingin membuktikan bahwa dimensi emosional yang ditampilkan di media dapat menjadi faktor krusial yang membangun kedekatan antara kandidat perempuan dan pemilih (Weber, 2009).
Penelitian ini meyakini bahwa dengan menampilkan aspek emosional dari kandidat perempuan sebagai narasi utama di media, hal tersebut dapat melegitimasi kualitas feminin menjadi bagian dari kualitas umum pemimpin. Media memiliki kekuasaan untuk memberikan pengakuan dan meredefinisi narasi tentang aspek emosional yang dimiliki oleh perempuan sebagai suatu kualitas kepemimpinan yang alamiah, sah, dan pantas. Dengan demikian, anggapan mengenai perempuan yang memimpin akan menjadi suatu bagian dari struktur sosial yang wajar.
Argumen penelitian dengan pendekatan kerangka berpikir Couldry mampu menjawab sejumlah tentangan teoretis yang mengkritik penggunaan aspek emosional sebagai narasi politik utama di media dalam meningkatkan elektabilitas perempuan, antara lain kritik mengenai narasi emosional yang dianggap sebagai sekedar ilusi keterbukaan informasi (Karppinen, 2008), dramatisasi kepribadian kandidat perempuan (Wood & Skeggs, 2008), komodifikasi (Hearn, 2008), hingga munculnya sinisme publik yang semakin menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi media dan politik (Anderson, 2008).
Dengan pendekatan Couldry, penelitian ini justru menunjukkan bahwa pengelolaan narasi emosional yang tepat di media akan menjadi fondasi kuat untuk membangun ikatan afeksi, legitimasi politik, dan pengakuan sosial yang dapat menggeser penerimaan publik terhadap kepemimpinan perempuan.
Narasi emosional yang dikelola dengan tepat justru akan membangun kepercayaan publik karena menampilkan sisi humanis sang kandidat perempuan, sebab pemilih mencari sosok kandidat yang bisa diidentifikasikan dengan diri mereka (Cavarero, 2000). Narasi emosional ini pun dapat menguatkan empati publik dengan menekankan pada pengalaman kolektif perempuan yang kerap menghadapi stigma, bias gender, dan stereotip dari masyarakat (Fraile & Sanchez-Vitores, 2020; Bauer, 2019; di Meco, 2019; Falk, 2010). Apalagi pemilih Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengapresiasi ketulusan yang ditampilkan oleh kandidat.
Referensi
Anderson, C. (2008). Journalism: Expertise, authority, and power in democratic life. The Media and Social Theory. New York: Routledge.
Bates, N.M. (2014). Everyday Sexism: The Project that Inspired a Worldwide Movement. London: Simon & Schuster.
Bauer, N.M. (2019). Gender Stereotyping in Political Decision Making. Oxford Research Encylopedias, Politics.
Cavarero, A. (2000). Relating Narratives. London: Routledge. Malden, MA: Polity Press.
Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice.
di Meco, L. (2019). #SHEPERSISTED: Women, Politics & Power in the New Media World. The Wilson Center.
Evan, J.A.J. (2004). Voters & Voting. London: SAGE Publications Ltd.
Falk. E. (2010). Women for President: Media Bias in Nine Campaigns. 2ND Edition. Carbondale: University of Illinois Press.
Fraile, M., & Sanchez-Vitores, I. (2020). Tracing the Gender Gap in Political Interest Over the Life Span: A Panel Analysis. Political Psychology, Volume 41, Issue 1. Wiley Online Library.
Hearn, A. (2008). Variations on the branded self: Theme, invention, improvisation and inventory. The Media and Social Theory. New York: Routledge.
Huddy, L., & Terkildsen, N. (1993). Gender Stereotypes and the Perception of Male and Female Candidates. American Journal of Political Science.
Karppinen, K. (2008). Media and the paradoxes of pluralism. The Media and Social Theory. New York: Routledge.
Lilleker, D.G. (2014). Political Comunication and Cognition. London: Palgrave-Macmillan.
Susanti, M.H., & Khu, S. (2025). The 2024 Indonesian presidential election in the accounts of millennials: A case study of Prabowo Subianto and Gibran Rakabuming Raka voters in Semarang, Central Java. Social Sciences & Humanities Open 11.
Weber, B. (2009). Makeover TV: Selfhood, Citizenship and Celebrity. Durham, NC: Duke University Press.
Wood, H., & Skeggs, B. (2008). Spectacular morality: ‘Reality’ television, individualization and the remaking of the working class. The Media and Social Theory. New York: Routledge.





Tinggalkan komentar